Senin, Maret 29, 2010

Facebook, MANFAAT atau RUGI (Mudharat) ?

Facebook haram!... demikian pernah kita dengar ketika facebooking mulai menjamur....
Hm.... apa dasarnya ya?...
Daku sih tidak begitu tertarik untuk bergabung dengan group yang 'pro' atau yang 'kontra'.... Aku lebih tertarik menelaahnya ke dalam diri sendiri... Banyak manfaat atau ruginya sih buat diriku? Lalu... apakah facebooking ini bisa sejalan dengan pribadi muslim/ah?

Terus terang dengan FB kita bisa menyambung tali silahturahim yang terputus...
Bayangkan saja, teman yang dulunya sudah terlupakan... tiba2 kembali muncul di 'hadapan' kita... dengan perubahan yang nda kebayang sebelumnya... ada yang jadi cakep atau ada yang tambah culun.... (hehehehe)
So, ketemu teman lama sangat baik kan?
Mengapa? karena menyambung tali silahturahim itu memang dianjurkan...Dan dengan silahturahim networking kita semakin luas.... Coba deh ingat-ingat, sekarang ini sepertinya teman-teman kita semakin variatif kan kemampuannya.... Mau minta bantuan, banyak referensinya....

Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu adalah menyambungkan apa yang terputus."(HR Bukhari)

================

Ada satu lagi nih alasan mengapa saya rasa FB bermanfaat sekali buat saya, yaitu.... saya kenal saudara saya di FB!!! hehehe...rada konyol sih... tapi inilah kenyataannya.....

Dulu ketika meninggalkan Surabaya (tempat kelahiran Bapak), beberapa sepupu belum lahir.... jadinya saya tidak sempat ketemu....
Kemudian, kesempatan untuk ketemu-pun sepertinya tidak optimal, yang ada ketemunya om dan tantenya saja....
Jadi melalui FB saya seperti ketiban durian runtuh.... tiba2 saya merasa saudara saya tambah banyak..... (padahal udah banyak ya?)

Hm.....
Lalu bagaimana dengan kerugiannya?

Nah ini sih kembali kepada penggunanya...
Coba kita bayangkan FB itu seperti sebuah pisau.........

Kalau pengguna menggunakan pisau di dapur buat masak tentu sangat bermanfaat....
Tapi kalau pisau itu kemudian digunakan untuk membunuh orang.... nah itu baru tidak manfaat... tul kan?
Jadi??, nda lucu kan kalau kemudian pisau diharamkan?
Ntar gimana dong masak didapur.... masak pake gunting kuku?? ;)

Terus terang aku tidak mau bahas kerugian secara panjang lebar...
Terlalu banyak.... siapapun yang berniat jahat pasti akan menyebabkan FB itu RUGI bukan MANFAAT....

FB bisa jadi ajang fitnah menfitnah
FB bisa buat prostitusi
FB bisa menjebak para gadis muda ke lelaki tidak bertanggung jawab
FB bisa sebagai alat penipuan
FB bisa buat orang menunda kewajiban sholat.....
bahkan FB bisa buat anak sekolah bodoh!!!

Lha.... kalau FB-an melulu..... kapan belajarnya????? hehehehe

==================

Yuk sekarang kita lihat apa sih manfaat FB yang paling yahud buat aku?

Buat aku dengan fesbuk......sadar tidak sadar kita jadi sering reunian....
Kita jadi sering berbagi informasi...
Kita jadi join grup-grup alumni atau ikatan2 lainnya

Beberapa waktu yang lalu, aku mulai menimbang-nimbang....
Mengapa aku sekarang jadi 'begitu dekat' dengan teman-teman lama?
Mengapa setelah aku bergabung di grup sekolah, aku setiap saat mendapat info mengenai rekan2 lama?
Mengapa aku tidak pernah ketinggalan info mengenai hal-hal yang up to-date?
Bahkan.....ketika ada yang kena musibah.... aku segera mendapat beritanya dan langsung bertindak.....
Info di FB benar-benar bagaikan api yang menjalar begitu cepat.....

==============

So..... Mengapa hal yang begitu indah tersebut tidak aku terapkan buat keluargaku?

Aku kemudian mencoba menghitung jumlah keluarga-ku dari sisi suami (hehehe... pasti miikir deh... kok sisi suami dulu sih? lha iyalah... keluarga suami kan keluarga buesaaar....)

Nah setelah dihitung ternyata jumlahnya mencapai 42 orang... itu hanya oom, tante, sepupu, istri sepupu, keponakan, dan yang mempunyai hubungan dekat saja lho... dan belum termasuk yang belum menjawab request daku.....

Segera saja aku coba buat grup keluarga ini....
Aku invite seluruh anggota keluarga untuk join, dan mulai berbagi info seputar keluarga besar...

Aku masih ingat, berita pertama, undangan arisan bulanan.....
Lalu mulai ada yang masukin foto jadul.... wah jangan ditanya deh...komen2 anehnya.... :)
Terakhir berita keluarga yang dirawat di Rumah Sakit....
Alhamdulillah keluarga yang tinggalnya di luar jakarta atau luar negeri, dapat menerima info ini dengan cepat......
Doa-pun diterima bertubi-tubi dari segala penjuru.....
Oh...betapa indahnya ya..... mendapati begitu banyak orang yang care pada kita......

"Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dipanjangkan umurnya, maka lakukanlah SILATURAHMI." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Subhanallah, manfaatnya terasa sekali kan ..

===================

Well, frens, bagaimana dengan anda?

"Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebajikan dan menghubungkan silaturahmi. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan kejahatan ialah balasan (siksaan) orang yang berbuat jahat dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (HR Ibnu Majah)

Ayo kita manfaatkan FB untuk mempererat tali silahturahim di antara keluarga kita.....
Jangan sampai FB hanya bermanfaat untuk teman2 saja, sementara keluarga kita lupakan (1003 yf/ff)


Silahkan di-share yang merasa topik ini bermanfaat dunia akherat.....

Senin, Maret 22, 2010

Kampanye bagus, disesuaikan dengan sikon warga


Keliatannya nyeleneh, tapi menurutku bagus sekali....
benar-benar TEPAT sasaran....

Tidak perlu kata2 formal yang buat masyarakat betawi njlimet tapi cukup pakai bahasa yang warga mudah mengerti.....

Jumat, Maret 12, 2010

Pengemis vs Pedagang Asongan

Friends, kali ini kami akan melanjutkan topik mengenai pengemis... (cerita sebelumnya : mereka-terpaksa-mengemis dan saya-penjaja-kue-semprong-bukan-pengmis)

Ternyata, tauladan untuk berbagi terhadap pengemis tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ketika kami mengajarkan mengenai hal ini, kami mendapatkan sesuatu hal yang jauh di luar perkiraan kami.... Bagi mereka, berbagi dengan pengemis 'ternyata' adalah ritual yang menyenangkan dalam perjalanan....
Setiap ada pengemis mendekat mereka akan berteriak.."aku yang kasih...! aku yang kasih!"
Wah.... kok jadi kacau begini ya.... :(
Ternyata apa yang kami ajarkan belum mereka tangkap dengan sempurna....
dan kami sadar mungkin bahasa yang kami pergunakan tidak sesuai dengan usia mereka...

Taktik pun kami rubah....
Setiap ada pengemis datang, kami ajak mereka 'melihat' kira-kira apa ya yang menyebabkan mereka seperti itu?
Sulit memang.....
Kami benar-benar takut salah 'menilai'.... takut
suudzdzan
Belum tentu badan sehat muda segar tidak layak menjadi pengemis....
Bagaimana kalau mereka tidak mempunyai keahlian, keberanian, pendampingan dan akal sempurna?... Siapa yang tau, kalau seandainya dari mereka ada yang idiot?....
Ingat cerita mengenai janda dengan anak idiot yang rapih bersih?

Namun kami yakin dengan beriringnya waktu, insya Allah, anak-anak dapat memahami pengemis-pengemis itu.....
Biarlah saat ini mereka 'menangkap' sesuai kemampuan yang mereka miliki.

Lalu pelajaran mengenai pengemis itu berlanjut ke pelajaran pengemis vs asongan.....:

Setiap anak2 akan memberi uang kepada para pengemis, kami pasti akan melarangnya apabila ada pedangan asongan sekitar situ.....
Awalnya anak2 sempat marah dan kecewa..... atau 'bingung'...Namun akhirnya mereka mengerti bahwa tindakan memberi sedekah kepada pengemis dapat melukai hati atau bahkan menghancurkan semangat para pedangan asongan yang mulia itu.....

Kita ajak anak2 membayangkan susahnya mereka mencari uang yang jumlahnya tidak seberapa itu ....
Mereka bayangkan bagaimana rasanya berjemur dibawah terik matahari seharian di pinggir jalan, haus, lapar, kehujanan demi menawarkan barang dagangannya kepada para pengendara kendaraan....

Lalu kami ajak anak-anak membayangkan lagi.....
Bagaimana rasanya apabila seharian tidak ada yang membeli dagangan mereka, sementara mereka melihat para pengemis tanpa usaha apa-apa mendapatkan uang lebih banyak?
Padahal para pedangan asongan itu lebih mulia, mereka malu meminta-minta, mereka masih punya semangat untuk berusaha dan tidak mau menyusahkan orang lain..... tidak mau bergantung pada orang lain..
Kasihan kalau sampai akhirnya mereka putus asa dan akhirnya memutuskan untuk menjadi pengemis juga......
Oleh karena itu, lebih baik kakak dan dede membeli barang dagangan mereka daripada terang2an memberi uang kepada pengemis di hadapan mereka. Karena sebenarnya merekapun butuh tapi mereka tidak mau menunjukkannya.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyah: 19)

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat menyampaikan satu lagi sunnah Rasulullah SAW kepada anak-anak yaitu :

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Bahwa Rasulullah saw. ketika berada di atas mimbar, Beliau menuturkan tentang sedekah dan menjaga diri dari meminta. Beliau bersabda: Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah yang memberi dan yang di bawah adalah yang meminta

Kamis, November 26, 2009

Kenali Proses De-Toxin Tubuh Kita

Artikel ini dikutip dari sebuah majalah kesehatan, nama lengkap majalah itu lupa, kalau ada yang tau tolong info ya biar bisa ditulis sumbernya...

PENYEBAB UTAMA KERUSAKAN HATI :

1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang (penyebab paling utama)

2. Pola makan yang terlalu berlebihan

3. TIDAK sarapan pagi

4. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan

5. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.

6. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangin penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan. Hal ini juga berlaku mesti menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil (minyak zaitun). JANGAN mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh fit.

7. Mengkonsumsi masakan mentah juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga. JANGAN disimpan.

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari

Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai jadwalnya. Sebab pada malam hari dari pukul

21:00 – 23:00

adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening).

Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik

Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai, seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini berdampak negatif bagi kesehatan

23:00 – 01:00

Proses de-toxin atau pembersihan bagian hati.

Proses pembersihan ini harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas

01:00 – 03:00

Proses de-toxin bagian empedu yang juga berlangsung dalam keadaan tidur

03:00 – 05:00

Proses de-toxin bagian paru-paru.

Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini, karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernapasan, maka tidak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

05:00 – 07:00

Proses de-toxin bagian usus besar.

Ini harus buang air di kamar mandi.

07:00 – 09:00

WAKTU PENYERAPAN GIZI MAKANAN bagi USUS KECIL.

Oleh karena itu harus makan pagi.

Bagi orang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pukul 6:30. Makan pagi sebelum pukul 7.30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya .

Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaan ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pukul 9 hingga pukul 10 daripada tidak makan sama sekali

00:00 – 04-00

adalah waktu sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itu tidurlah yang nyenyak dan jangan terlalu sering begadang.

Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses (de-toxin) pembuangan zat-zat yang tidak berguna.

Rabu, Maret 18, 2009

Anak jangan di Steril tapi di Imunisasi

"Mau Coklat Nak?", tanya EO family gathering kantorku di bis wisata yang kami tumpangi...

"Tidak terima kasih!" Jawab Fara dan Fira...

Aku pun menoleh ke mereka dan melihat pemandangan yang mengherankan....
2 anak kecil tersenyum manis menolak tawaran 2 buah wafer coklat TOP yang super gede....
Fara dan Fira menolak wafer itu!
(Duh...padahal enak banget tuh..... *maruk.com*)

"Ayo Nak diambil aza nggak papa kok...." paksa mereka

"Nggak oom makasih, kami batuk!"

Subhanallah, alhamdulillah... "imunisasi" kami berhasil....

Memang kami pernah mengajarkan kepada mereka dampak buruk permen buat kesehatan.Cukup dengan contoh sebutir permen yang telah dihisap.Kami suruh mereka memegangnya dengan jari dan kemudian merasakannya.

"bagaimana Fara, Fira.... apa rasanya?"

"Iiih lengket banget bunda..."

"iya, begitulah kerongkongan Kakak dan Dede kalau kebanyakan makan perman. Jadi lengket dan terus jadi batuk!"

"Oh pantesa aza bunda kalau batuk, leher kakak tidak enak sekali"

"Nah kalau begitu mulai sekarang kalau makan permen jangan kebanyakan yah...cukup 1 butir 1 hari. Kalau dapat lebih disimpan untuk dimakan besok hari.Mau tidak kalau batuk?"

"tidak bunda tidak enak tidak bisa makan es krim!"

"Okeh, kalau begitu ingat yah...1 butir 1 hari dan jangan makan permen kalau lagi....."

"BATUUUUK..."

Hm, sepertinya mereka cukup menangkap pelajaran 'imnusasi' kami...

Mereka memang kami imunisasi agar dapat menghadapi kehidupan ini dengan lebih bijak...

Well, sudah taukah frens dengan maksud kami anak jangan di steril tapi di imunisasi saja?

Baiklah, kami kasih satu contoh lagi ya....

Sekali waktu kami bertandang ke rumah saudara kami yang memiliki beberapa anak usia TK dan SD...
Kejanggalan yang kami lihat adalah...tidak ada TV di rumah tersebut!
Hm...aneh ya jaman maju begini...tidak ada TV dirumahnya...
Kemana TV mereka? rusakkah?
Ternyata tidak....

ORang tua anak-anak itu ingin mensterilkan anak mereka dari pengaruh buruk TV....
Wah...mana mungkin???!!
Mereka kan dengan mudah dapat kabur ke rumah teman atau tetangga untuk menyolong menonton TV....
Anak-anak tidak bisa disteril seperti itu di dunia yang semakin berkembang tak terkendali ini.

Mungkinkah kita mensteril anak kita dari internet, padahal internet gudangnya informasi?
Mungkinkah kita mensteril anak kita dari TV, padahal TV tempatnya informasi terkini?
Mungkinkah kita mensteril anak kita dari miras, padahal peredaran miras sudah begitu pesat dan menyebar?
dan masih banyak lagi mungkinkah...mungkinkah. yang lainnya...

Di rumah, Fara dan Fira kami beri kebebasan menonton TV, asal bukan jam maghrib, jamnya kami sekeluarga sholat berjamah dan kemudian mengaji Al Qur'an...
dan juga bukan pada jamnya Fara dan Fira harus mengulang pelajaran sekolahnya...

Imunisasi terhadap TV kami lakukan dengan memberi komentar baik dan buruknya suatu tayangan.
Ketika kekerasan rumah tangga di suatu iklan sinetron dipertontonkan kami bilang kepada mereka

"hi...liat tuh de, kak....orang jahat-jahat sekali yah...masak kerjanya berantem melulu...
kalian mau tidak ayah bunda berantem seperti itu tampar2an?"

"Enggak ah bunda...iya yah jelek banget"

"Iya kak, makanya jangan nonton sinetron seperti itu ya jelek...tidak bagus dicontoh"

"Mba Wati tuh bunda yang suka nonton sintron padahal jelek yah..."

Alhamdulillah, dari imunisasi tersebut mereka kini sudah tau mana yang buruk dan jelek

====

So frens...dari cerita di atas akankah kita mensteril anak kita atau meng-imunisasinya?
Semuanya kembali kepada frens sekalian...

Salam

Rabu, Desember 24, 2008

Saya Penjaja Kue Semprong bukan Pengemis

Friends ada tulisan lama yang sangat menarik dan menyentuh dari teman kami Linda Df. Silahkan disimak :

============================

Semalam saya keluar dari Ranch Market jam 8.30. Hujan deras. Petugas Ranch Market setengah berlari mendorong trolly berisi barang-barang belanjaan saya. Saya juga berlari-lari kecil menjajari langkahnya menuju mobil. Saya membukakan bagasi dan petugas memindahkan barang-barang belanjaan saya.

Seorang penjaja kue semprong mendekati kami. Memang setahu saya banyak penjaja kue semprong disana menjajakan barang dagangannya dengan sedikit memaksa. Karena terlalu biasa saya tidak mengacuhkannya, apalagi di hujan deras seperti ini.

Setelah memberikan tip saya masuk mobil, namun masih saya dengar ucapan penjaja kue semprong tersebut,

‘ Bu, beli kue semprongnya untuk ongkos pulang ke Tangerang”.

Didalam mobil saya berpikir saya kasih uang saja karena penganan yang saya beli di supermarket sudah cukup banyak, bagaimana jika tidak ada yang menghabisnya. Nanti jatuhnya mubazir. Saya memang lebih suka dengan para penjaja kue seperti ini ketimbang pengemis.

Pelajaran berharga yang pernah saya dapat dari mantan bos saya sembilan tahun lalu.

Masih teringat ucapannya ketika itu kami berdiskusi di kantor.

“Coba kalau ada penjaja makanan atau barang dan pengemis dilampu merah mana yang kamu berikan uang?" tanyanya.

Belum sampai kami menjawab, ia berkata lagi “pasti yang kamu berikan uang si pengemis itu dan penjaja makanan atau barang itu kamu acuhkan”.

Secara serempak kami mengiyakan.

“coba pikirkan lagi, penjaja makanan ataupun barang punya harga diri, dan pastinya secara pribadi lebih baik dari si pengemis, lalu kenapa kita tidak membeli barang dagangan si penjaja makanan atau barang tersebut?"

Teman saya nyeletuk,”karena kita ngga butuh”.

Mantan bos saya bergumam, “Ya betul karena kita tidak butuh”.

Obrolan itu begitu singkat, tapi begitu mengena di hati saya. Pak Teddy Sutiman membuka mata hati saya untuk lebih bijaksana dalam melihat suatu persoalan, bukan hanya berpikir praktis saja. Dan sejak itu saya lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan atau barang di jalanan dibandingkan para pengemis.

Penjaja jual kue semprong itu masih dengan setia menanti disisi mobil saya. Saya menghela nafas. Bukan karena tidak rela berbagi rejeki tapi karena menyesali banyak sekali penganan yang sudah saya beli tadi.

Akhirnya saya membuka kaca,

“Pak, saya tidak mau beli kue semprongnya, tapi kalau bapak saya beri uang mau tidak?”.

Tidak dinyana penjaja kue semprong itu menggelengkan kepalanya dan pergi dengan cepatnya dari sisi mobil saya.

Saya tersentak dan menutup kaca jendela, hujan mengguyur deras dan membanjiri sisi kaca dalam mobil saya karena berbicara dengan si penjaja kue semprong.

Beberapa detik saya kehilangan daya ingat saya, karena tidak menyangka ucapan yang keluar dari penjaja kue semprong tadi.

Sembilan tahun saya telah lebih memberi perhatian kepada para penjaja makanan ataupun barang dibanding pengemis. Sesekali jika saya tidak butuh barang mereka, selalu saya ucapkan kalimat tadi, dan hampir semuanya tidak pernah menolak pemberian saya. Baru kali ini ada yang menolaknya. Baru kali ini …..

Hujan mengguyur makin deras dan saya masih terpaku di mobil, terbayang ucapannya “ untuk ongkos pulang ke Tangerang..” sementara total nilai belanjaan saya tadi mungkin bisa untuk ongkos pulang Bapak penjaja kue semprong selama tiga bulan.

Tersentak saya mencari-cari bayangan penjaja kue semprong ditengah kabut dari derasnya hujan, terlihat pikulannya ada di pinggir teras sebuah toko tutup. Penjajanya duduk dibawah dengan muka pasrah.

Saya mundurkan mobil menuju kearahnya.

Kembali saya buka kaca jendela sebelah kiri ditengah guyuran hujan dan menjerit,

"Pak, memang harganya berapa ?”.

Ia menyebutkan sejumlah harga yang sangat murah.

Akhirnya saya katakan,” ya sudah deh beli satu”.

Dia mebawa kue semprong pesanan saya didalam plastik.

Sampai di mobil, saya serahkan uang, dan dia bengong karena saya tidak menyerahkan uang pas.

Saya tau dia pasti bingung memikirkan kembaliannya, tapi dengan cepat saya katakan, “kembaliannya ambil buat Bapak saja”.

Dia bengong. “ambil saja Pak, ini rejeki Bapak, memang hak Bapak”.

Dia meneguk ludah, sebelum sempat dia mengucapkan apa-apa saya langsung menutup kaca mobil dan pergi.

Tiba-tiba air mata ini mengalir deras melebihi derasnya hujan diluar sana. Kalau Bapak itu tidak menerimanya, saya tidak tahu seberapa sakitnya hati saya, karena didalam rejeki saya ada hak mereka termasuk hak Bapak penjaja kue semprong itu.

Tiap bulan memang selalu saya sisihkan buat mereka, tapi mengetahui bahwa saya telah memberikan betul- betul kepada orang yang berhak menerimanya, betul betul kepada orang yang berhati mulia, dan betul- betul kepada orang yang membutuhkannya, betul- betul membuat saya merasa hidup saya begitu bermakna dan saya sangat bersyukur atas rahmat-Nya.

Ditengah leher saya yang sakit sekali karena tercekat, saya berdoa kepada Allah agar Bapak penjaja kue semprong tersebut dan keluarganya diberikan rahmat, kemurahan rezeki dan kemudahan hidup oleh Allah.

Dan saya bersyukur atas segala rahmat dan kemudahan hidup yang diberikan Allah kepada saya dan keluarga saya.Hujan masih deras mengguyur kaca mobil.

Mudah-mudahan hujan cepat reda supaya bapak penjaja kue semprong tadi bisa pulang tanpa kehujanan. (ldf) 30/7/06

Rabu, November 12, 2008

Kalau Betawi Ngantenin



He..he.he.. lucu juga bahasanya...menggantikan Sugeng Rawuhnya wong Jawa
"Ente Dateng Ane Girang" wakakak......



Nah, kalau yang ini, mengingatkan tamu, kalau Malu, ntar laper lho....
Malo' = Malu









Jumat, Oktober 31, 2008

Mogok Sekolah

Beberapa minggu terakhir ini kami dipusingkan oleh ulah si kecil yang mogok sekolah...

Wah kami ampe pusing 7 keliling membujuknya.... hadiah ditawarkan..TIDAK MAU...diajak pergi jalan-jalan..TIDAK MAU...
Pokoknya..apa-apa dia MAU...asal jangan suruh ke sekolah!

Begini nih ceritanya....

Liburan cuti bersama yang cukup panjang itu ternyata berdampak secara psikologis terhadap Fira...
Kedekatan kami berempat (Ayah-Bunda-Fara-Fira) begitu kental dalam benaknya...
Memang jelas sekali kebahagian yang terpancar diwajahnya... tiada hari tanpa ayah dan bunda..."Horeeee! " teriaknya sambil mengangkat kedua tangannya....

Di hari-hari terakhir sebelum masuk sekolah, ayahnya sempat berkata dan kuatir, "anak-anak mungkin akan segan kembali ke sekolah... "

Benar saja, di sekolah setiap hari dede Fira hanya mau belajar sama kakaknya di kelas sang kakak....

Awal-awal bu gurunya Fara masih mengijinkan... tetapi setelah beberapa kali, Fira mulai ditahan untuk tidak ke kelas kakaknya....
Apa yang terjadi? Dia nangiiis sampai muntah....!

Nah..mulai deh babak mogok sekolahnya...

Setiap ditanya untuk ke sekolah, jawabnya selalu "takut muntah"..(hm....kadang-kadang aku berpikir,... jangan-jangan ini anak kayaknya sengaja membuat muntahnya sebagai tameng biar tidak sekolah)...
Tapi ternyata aku salah...dia emang benar-benar mogok sekolah.

Rabu dede tidak sekolah

Jum'at juga belum mau sekolah.

Senin,
dicoba paksa ke sekolah, dede malah nangis, ngambek dan muntah lagi...nggak mau sekolah.

Tapi ajaib, setelah dibujuk oleh uwaknya... dia mau juga berangkat sekolah.. Alhamdulillah..

Ternyata uwaknya mengiming2i kalau nanti ayah dan bunda beli kue kalau dede ke sekolah...

But Frens, tapi ternyata masalah belum selesai...
Di sekolah dia betah banget ngendon di kelas kakaknya, sampai guru kak Fara akhirnya mulai terganggu...

Nah begitu pula hari Rabu berikutnya.... (Duuh...aku mulai bingung juga ngadapinnya ya)...

Tadi malam sebelum jumat besok sekolah, aku coba bicara dan bujuk dede untuk belajar di kelasnya bersama teman-temannya...
Hasil bincangku berakhir gagal total... yang terjadi dede nangis tersedu sedan sambil berusaha nempel ke aku.

Dengan sedikit sedih kusuruh dede ke kamar sendiri..supaya dia mengerti bahwa besok harus belajar di kelasnya! Hm...sedih juga sih ngelihatnya tersedu sedan di tempat tidur sambil memeluk guling....

Yah...tapi bukan Fira namanya kalau tidak langsung ceria!

Sepulang Ayahnya dari sholat Isya di Mesjid, dia mulai nempel kembali ke kami di meja makan...

Nah ini dia saatnya kupikir untuk berbicara dan membujuk lagi Fira dengan nada riang.

Aku bilang : "Siapa yang mau balon Barbie????"

Fira sambil mengangkat telunjuk : "Akuuuuuu!!"

Bunda : "OK, tapi besok dapatnya setelah dede belajar di kelas dede ya?"

Fira : "Iyaaaaa....ama kakak!"

Bunda & Ayah : Bengong...

Ayah : "Iya tapi setelah belajar ama teman-teman dede ya"

Fira : Diam dan nunduk

Bunda : "Siapa yang mau balon???"

Fira : "Akuuuu"

Bunda : "Belajar di kelas dede sendiri ya.."

Fira : "Iya...." (tapi tidak semangat)

Bunda : "Teman dede siapa aza sih...?"

Fira : "Sophi, Zamzam, Mirdan, Aulia...." (dengan semangat)
=======
Hm.... sepertinya ok-ok saja ya....

Nah keesokan harinya, sesuai pesan gurunya, aku sudah titipkan sticker Ben Ten kesukaan dede...
Ini katanya buat hadiah surprise pemicu dede biar mau belajar di kelas...

====

Jam 2 siang, ketika aku telpon ke rumah...Dede dengan bangganya bercerita kalau dia sekarang tidak ke kelas kakak dan tidak nangis!... Alhamdulillah...

Dia juga bercerita senang sekali dapat hadiah sticker Ben Ten dari bu Guru..... :)

Dan tambah senang lagi ketika aku katakan kalau nanti sore Dede mendapatkan hadiah balon...

"Asyiiik, balon barbie ya Bunda..."

"Iya..."

"Dua ya buat Sofi...."...

Hm..rupanya dia sudah ingat dan kangen bermain kembali bersama teman-temannya....

Kamis, Agustus 07, 2008

Kecil tapi Besar

Pagi sekali sebelum sampai ke kantor kami mampir ke Rumah Makan Betawi terkenal di Gondangdia untuk membeli sarapan pagi bekal ke kantor. Makanannya enak deh...ada nasi uduk dan lontong sayur yang betawi abis...

Sesampainya di sana,aku pesan 1 bungkus ketupat sayur untuk bekalku.

Selang beberapa menit kemudian, suamipun tergoda untuk membeli...1 bungkus lagi untuk dirinya. Eh, tidak beberapa lama kemudian, suami tergoda lagi untuk membeli 1 bungkus lagi untuk teman akrabnya...

Namun sebelum bungkusan ke tiga dibuat, tiba-tiba aku mencium bau asem (maaf seperti bau sampah) yang agak menyengat...

"Yah cium bau nggak?" tanyaku

Suamipun menjawab "Ah dari situ kali", sambil menoleh dan menunjuk ke sisi kanannya...

Tapi perasaanku tidak enak, sepertinya tidak ada sampah di situ...Aku semakin penasaran darimana asal bau tidak sedap tersebut? Hm...., jangan-jangan dari santan ketupat sayur tersebut...gelitik pikiranku...

Kuberanikan diri meminta ijin kepada penjualnya untuk mencobanya dahulu..

Kubilang padanya, "Mas coba dulu yah... takut basi nih, ini kan masih panas, nanti kalau ditutup sampai di kantor takutnya basi"..

Dengan sendok yang tersedia, kucoba sedikit sayur tersebut...

Astaghfirullah.. segera kulepeh kuah tupat sayur tersebut ke tempat cucian piring dan berkata kepada Mas penjual.. "Mas, maaf, tolong coba deh, kayaknya asem"

Si mas-pun mencobanya sedikit dan sedikit terhentak, tapi ia hanya berkata, "Oh maaf Bu, mungkin karena hari ini kami pake udang, biasanya kami tidak pakai Bu."

Dengan menyesal kami batalkan saja 2 bungkus ketupat sayur tersebut dan kuputuskan menggantinya saja dengan sebungkus nasi uduk lengkap dengan semur telur, tahu dan oreg tempe serta bihun gorengnya.. Ahh.. nggak papa deh tidak makan ketupat sayur, nasi uduknya kan maknyus punya lho, begitu pikirku...

Setelah selesai membayarnya, kami bergegas ke motor dan menaruh bungkus plastik hitam nasi uduk tersebut di stang motor..

Namun, setibanya di kantor, kami kaget setengah mati.... ternyata kantong tersebut kosong!.. yang tersisa hanya lobang besar di dasar kantong plastik hitam...

Aduh... sekali lagi ini bukan rezeki kami!.. Astaghfirullah al'adzim.. apa dosa kami sehingga kehilangan dua kali kesempatan makan enak?

Suamipun hanya berkata enteng "kurang sedekah kali kita".

===

Malam harinya suami bercerita...

"Bunda...mungkin ini dosa kita tidak jadi memberi makanan ke Enya (Ibu Suami)..."

===

Memang...sekarang Enya tidak segesit dulu lagi...penyakit radang tulang dengkulnya sudah parah... untuk berjalanpun beliau harus menahan sakit...

Selain itu anak-anak telah menikah dan satu-persatu meninggalkan rumah Enya...

Enya sekarang tinggal sendiri tanpa pembantu. Namun alhamdulillah masih didampingi satu keluarga anaknya yang tinggal di rumah pavilliun di sebelah...

===

Friends, hari itu sebelum kejadian di atas, kami memang berniat memberi Enya makan/bekal untuk makan pagi/siangnya.
Namun timbul sedikit perbedaan pendapat di antara kami...
Suami agak keberatan memberikannya karena makanan yang akan kami berikan hanya cukup untuk Enya, Suami kuatir hal ini dapat menyinggung perasaan adik yang tinggal di sebelah yang saat ini merawat dan menjaga Enya...

Akhirnya, setelah dipertimbangkan, kami urungkan niat berbagi makanan tersebut untuk Enya.......

===

Malam itu... kami hanya dapat mencoba me-reka-reka penyebab 'kesialan' yang kami hadapi di pagi hari tadi...Suami berkata mungkin ini akibat kesalahannya yang tidak mengijinkan istrinya berbagi sedikit makanan ke Enya...

Makanan tersebut memang "kecil" (sedikit) tapi mungkin nilainya sangat "besar" buat Enya, Wallahu'alam

Rabu, Juni 18, 2008

Mereka Terpaksa Mengemis

"Barangsiapa memberi krn Allah, menolak karena Allah, mencintai krn Allah, membenci krn Allah, dan menikah krn Allah, maka sempurnalah imannya." HR Abu Dawud

Seorang sahabat bertanya kpd Rasulullah SAW,
" Sodaqoh yg bagaimana yg paling besar pahalanya?"
Nabi SAW menjawab,
" Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata utk fulan sekian dan utk fulan sekian." HR Al-Bukhari

Demikian sebagian hadits yang menjadi pembuka apa yang akan kami ceritakan di blog ini.
====

Beberapa waktu lalu.... biasanya malam hari di depan jendela Dunkin Donuts di Hero Mampang, duduk seorang Ibu dengan anaknya... dia menjual Rempeyek...
Harganya tidak mahal buat orang-orang yang belanja di situ... hanya 4000/bungkus...

Sayangnya, tidak banyak orang yang rela mampir dan membeli rempeyeknya...
Kerap kulihat dia hanya melamun, entah apa yang dilamunkannya....
Berapalah keuntungan yang didapatnya dari sebungkus rempeyek... Rp.2000? Rp.1000? atau malah hanya Rp.500?

Kini, setelah harga-harga melonjak naik...sang Ibu tidak lagi datang bersama bungkusan rempeyek dan anaknya...
Dia telah berubah menjadi seorang pengemis...
Dia terduduk merunduk di tangga di depan pintu masuk Giant (d/h Hero)...
Yah... waktu telah merubah cara berpikirnya.... dia tidak dapat berusaha lagi menjadi orang dengan tangan di atas... tapi dia telah berubah menjadi orang dengan tangan di bawah...

Mungkin sebagian orang akan mencibirnya....
Usia masih 35-45 tahunan, sehat.... tapi kenapa mau ya jadi pengemis????
Namun bagi orang yang mengenal dan mengetahuinya.... miris hati ini melihatnya.....
Mungkin dia-pun tidak ingin menjadi pengemis...
Tapi itulah 'pilihan' terakhir yang harus dilakukannya demi anak-anaknya di rumah....
Dia tidak sanggup lagi beli minyak/gas yang naik harganya... begitu pula kebutuhan pokok lainnya....
Lebih baik mengemis daripada anak-anak tidak makan....mungkin begitu pikirnya.

====

Friends, ada lagi satu pengalaman dengan pengemis yang saya temui..

Setiap sore sepulang kantor, di pinggir sungai dekat lampu merah Toyota-Sunter, berdiri seorang ibu rapih dengan rambut tersisir kebelakang dan anaknya yang cacat mental berumur +/- 6 tahun.
Setiap ada yang memberi sedekah, sang anak dengan bimbingan sang ibu akan tersenyum dan mengucapkan "terima kasih" dengan susah payah....
Dan mereka pun akan tersenyum manis dan bahagia, setiap orang yang bersedekah, membalas senyum mereka...Duh, jarang melihat senyum ikhlas pengemis di jaman yang semakin menggila ini….

Medio Feb-Mar 2008, ketika Ibunda saya terbaring di ICU, saya kerap meminta mereka mendoakan Ibu saya sembari memberikan sedikit sedekah....
Saya teringat makbulnya doa-doa orang seperti mereka....
Setiap saya utarakan hal tersebut, sang Ibu akan berucap..."Allah Maha Tahu Bu...." Amiin

Waktu terus berlalu, dan rutinitas itupun seperti saat yang ditunggu-tunggu, baik olehku maupun oleh Ibu dan anak tsb....
Mereka akan berlari-lari kecil ketika mobil kami mendekat, dan terjadilah interaksi yang ‘indah’ di antara kita…

Tak terasa, Mama-pun dipanggil oleh Yang Maha Kuasa....
Dan kusampaikan berita tersebut ke Ibu Pengemis di suatu sore....

Ternyata, ucapannya membuatku makin miris "Iya...Bu, suami saya pun dipanggil Allah Agustus tahun lalu"...
Astaghfirullah al'adziim.... Terbayang di wajah saya.... bagaimana sulitnya beliau membesarkan anaknya yang cacat mental setelah ditinggal suami...
Mungkin ia ingin bekerja, tapi dia tidak bisa meninggalkan anaknya....
Berapa banyak orang yang mengetahui hal tersebut?
Berapa banyak orang yang 'ridho' memberinya sedekah melihat penampilannya yang tidak kumal?

"Orang yg mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tdk merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yg tdk berbuka". HR Al Bukhari

Ternyata kita hanya mampu berpendapat, tanpa mengetahui kehidupan mereka sebenarnya....

Kini semuanya kembali kepada diri kita masing-masing.....
Janganlah berprasangka buruk kepada pengemis-pengemis itu.... kita tidak tahu apa yang mereka hadapi....

Daripada mencibir dan menimbulkan dosa, lebih baik diam...
Atau berikanlah sedekah dan doa agar hidup mereka berkah dan dimudahkan.
Insya Allah, pahala akan kita raih....

"Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain" HR Ahmad

Memang banyak orang yang pura-pura jadi pengemis...
Namun bisakah kita membedakannya mana yang benar dan mana yang bukan?
Jangan-jangan dengan berprasangka buruk dan menghindar mensedekahkan harta, kita telah melewatkan rahmah dari Allah melalui pengemis tersebut.....

Allah Tabaraka wata'ala berfirman (hadist Qudsi): "Hai anak Adam infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku akan memberikan nafkah kepadamu." HR Muslim

Insya Allah

Rabu, Juni 11, 2008

Kisah 3 Buah HP

Sabtu tanggal 7 Juni 2008, keponakan kami, David merayakan Ultahnya yang ke-9.

Wah Fara dan Fira senang sekali.. diajak main Bowling....di EX.

Ini kali pertama mereka main bowling... jadi sepertinya mereka lupa waktu...

Selesai bermain kita makan siang (sebenarnya sih bukan makan siang tapi makan sore) karena udah ampir jam 3.

Kami semua membawa hadiah buat David. Dan ternyata, selain memberi hadiah ke David, kembaranku juga membeli hadiah buat Fara dan Fira, yaitu telpon mainan yang jumlahnya 3 (tiga) buah...

Kenapa tiga buah?

Karena satu set emang ada 3..he..he..he..

Nah berhubung kelebihan satu buah, saudara kembar saya bilang ke Fara, "Nanti yang satunya dikasih ke Farsya ya..." (sepupu Fara yang seumuran dia).

Selama acara dan jalan-jalan mereka senang sekali main game di HP-HP an itu. Bahkan dalam hitungan menit, Fara udah jago... tidak ada yang bisa ngalahin dia...Sampai sepupunya David yang udah 9 tahun bilang, "Aku juga kalau masih kecil (seperti Fara) pasti menang!"... he..he.he.. syirik kali ye...














Fara-Fira asyik main game di HP mainan di musholla Plaza Indonesia.

Sore hari Farsya mampir sebentar ke rumah bersama Abi dan Ummanya. Langsung saja saya suruh Fara memberi HP itu ke Farsya...

Tapi ternyata Fara tidak mau, ketika HP saya berikan ke Farsya, dia mulai marah dan menangis.

Saya tanya dan berikan HP hijau Farsya ke Fara, "Kakak mau tukar HP-nya dengan yang warna Hijau ini?"

Dia jawab, "Nggaaaaaaak!!!!!" (duh kenceng banget!)

Dengan sangat terpaksa, saya ambil HP hijau tersebut dari tangan Fara untuk saya kembalikan ke Farsya...

Tidak dinyana... Fara mulai menjerit... dan Abi dan Umma Farsya mulai tidak enak, mereka menyuruh Farsya segera mengembalikan HP tersebut.

Tapi saya kekeh ke Abi dan Umma kalau HP tersebut tetap harus dikasih ke Farsya. Saya bilang Fara harus belajar "Menjalankan Amanah".

Saya bilang pada Fara, "Ini kan pesan dari Auntie Rini, HP ini untuk Farsya, kita harus ngasih ke Farsya.."

Fara malah tambah menjerit dan menangis...(Wah... malu deh ama tetangga, mana nangisnya di teras lagi)

Sayapun memantapkan hati, ini saatnya Fara belajar. Saya harus TEGA. Fara harus mengambil pelajaran hidup...

Saya abaikan saja dia menangis sampai puas...

=====

Keesokan harinya, ketika Fara mulai tenang dan ceria, saya ajak ngobrol santai.

"Kakak kok tidak mau kasih HPnya ke Farsya, sih? Itu kan sudah pesan Auntie Rini"

"Kalau kita dikasih amanah atau pesan oleh orang lain, kita harus melaksanakannya Kak...

Walaupun kakak suka, tetap harus kita kasih ke Farsya, ntar hidup nggak berkah lho Kak...karena kita tidak amanah"

Fara-pun menjawab :

"Tapi kakak pengen kasih HP-nya ke Najwa"

Saya bilang, "Lho, kan Auntie bilangnya, HP itu buat Farsya"

Fara pun menambahkan "Kemarin kakak udah bilang ke Auntie, tapi Auntie tidak dengar"

Ooh, gitu.. lain kali kalau Auntie tidak dengar, kakak harus ngomong lebih keras lagi yah!"

"Kalau gini kan, kakak yang rugi..."

"Iya...bunda...."

"Kemarin kakak juga gitu Bunda. Di sekolah, Kakak bilang ama bu Guru, kakak mau pipis, tapi Bu Guru nggak dengar, Bu Guru malah bilang, ayo cepat.. cepat... kakak harus latihan nari!... Eh... kakak jadinya ngompol BUnda!!!"

Hahhh???

"Iya..iya.. makanya lain kali kalau kita ngomong tidak kedengaran, kita harus ngomong lebih keras yah... biar mereka dengar"
"Iya bunda..."

=====

Alhamdulillah, tidak terasa sudah 2 pelajaran telah dipelajari oleh Kakak, bahwa amanah orang itu harus dijalankan, walaupun pahit. dan pelajaran kedua, bahwa ketika berkomunikasi, kakak harus yakin orang yang diajak ngomong tersebut dapat mendengar dan mengerti maksud kita.

Semoga kakak jadi anak yang amanah...Amin..

Kamis, Juni 05, 2008

My Birthday...


Kemarin pas ultah ke 38, aku iseng-iseng browsing ke salah satu milis-ku... dan aku menemukan cerita yang sangat menarik, yang punya hikmah didalamnya..

Berikut petikan dari emailku ke milis tersebut, yang aku kirimkan 2 tahun lalu, ketika mama dalam kondisi sakit-sakitan :

===

HAPPY BIRTHDAY TO ME

Dear Moms, Aku mau share sedikit tentang ulang tahunku yang ke 36 yang begitu spesial aku rasakan......

Hari itu tanggal 2 Juni 2006 jam 10:15, aku bergegas pulang ke rumah dari kantor, Mama ku agak gawat, setelah 2 X masuk ke rumah sakit, kondisinyasepertinya tambah mengkhawatirkan.

Sore harinya, kami larikan beliau ke UGD RS langganan kami....

Aah......... semuanya terasa menyedihkan.... Mama mulai meracau, meminta kami berkumpul dan mengatakan akan memberikan pesan-pesan terakhir......

Semakin waktu menjelang malam, kondisi mama semakin tidak menentu.....

Dokter memutuskan mengirim beliau ke ICU di RSPAD......

Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 00:00 malam tepat tgl 3 Juni 2006.
Saya dan suami menemani mama di Ambulance ke Rumah Sakit, sementara kembaran saya mengendarai mobil di depan.

Tepat jam 00:15 saat 36 tahun kemaren saya di lahirkan, saya hanya dapat memandangi ibunda tercinta..... terlupakanlah kata-kata yang biasa saya ucapkan ketika ulang tahun.....

"Ma.... terima kasih ya, mama telah membimbing saya selama ini.........."

Pukul 00:45 ketika kembaran saya nongol di muka bumi ini, kamipun masih belum terpikir untuk saling mengucapkan ulang tahun..........

Aaahh.... semuanya begitu cepat.... Dan kami akhirnya tersadar ketika menjelang pukul 3 pagi.... Kembaran saya memeluk saya dan kami hanya berucap "selamat ulang tahun" dengan hambar......

Ternyata, di saat itulah kita baru merasakan, betapa arti ulang tahun itu tidak ada artinya tanpa kehadiran BUNDA tercinta........

Dari beliaulah kita terlahir...... tanpa bimbingannya, tentu kita belum tentu tumbuh dewasa seperti saat ini.....

Moms, saya hanya ingin mengajak..... ketika kita berulang tahun.... Datangilah orang tua kita (apabila masih ada) dan katakanlah "Maaf..........dan terima kasih, bahwa kita masih dapat merasakan ulang tahun kita tahun ini..............."

Jangan tunggu ucapan terima kasih dari beliau, karena sesungguhnya pengorbanan beliau adalah Hadiah TERINDAH buat kita......Amin.........

Salam YUNO

PS. tanggal 13 Juni 2006 kemaren beliau ulang tahun ke 66, dan SUBHANALLAH beliau telah lepas dari seluruh selang-selang di tubuhnya. Dan tanggal 16 (ultah kakak saya) beliau melepaskan selang terakhirnya (mulai sembuh).........
Alhamdulillah.....Kado terindah untuk beliau dari Allah SWT........

Rabu, April 16, 2008

Akhir dari sakit Mama (Hikmah di balik sakitnya Mama-4)

Sudah lebih dari dua minggu mama koma di ICU, dan seperti biasa, kami tancap gas dari kantor di Sunter jam 5 sore untuk mengejar jam besuk mama di ICU yang hanya diberikan selama 1 jam saja (jam 5 sore sampai jam 6 sore).

Biasanya kami sampai di RS sekitar jam 6 kurang atau bahkan jam 6 lewat. Senin tanggal 31 Maret 2008 kami bahkan sampai di RS jam 6.15. Untung perawat di ICU masih memberi kami kesempatan membacakan doa untuk Mama.
===
Hari ini tanggal 1 April 2008, aktivitas berjalan tidak seperti biasanya.
Entah mengapa saya sepertinya terdesak untuk segera closing bulanan. Padahal laporan konsolidasi bank asli belum kami terima. Dan di saat sedang sibuk tersebut, sayapun tergoda untuk ikut bersama teman-teman ke Gramedia dan Gunung Agung. Entah mengapa... padahal kan laporan bulanan harus segera saya selesaikan.

Di toko bukupun, mata ini hanya tertarik pada buku yang membahas mengenai sakaratul maut. Entah mengapa (lagi) saya begitu yakin kalau Mama sedang dalam masa sakaratul maut.
Sayalah yang menemani beliau di malam terakhir beliau tersadar.
Jam 1 malam beliau ‘marah’ minta pulang ke rumah. Mama bahkan menyuruh Tina (pembantu yang begitu setia merawat mama) untuk mengambil uang di dompetnya untuk naik taxi malam-malam. Mama kemudian minta pintu dibuka, minta digendong dan minta Mandi....! Kata-kata ‘mandi’ benar-benar kata yang sangat menakutkan bagiku. Aku teringat cerita orang-orang yang sakaratul maut, yang rata-rata minta dimandikan sebelum meninggal... Ah...Cepat-cepat kubuang pikiran tersebut....

Akhirnya, aku putuskan membeli buku Yasiin Fadhilah setebal 46 halaman setelah sekian lama tidak ketemu juga buku yang khusus membahas sakaratul Maut.

Kembali ke kantor, kukejar kembali pekerjaan yang tertinggal. Cepat-cepat kuserahkan hitungan-hitungan yang dibutuhkan bagian akunting untuk closing, agar seandainya terjadi apa-apa mereka segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Ya... aku tidak tau mengapa rasanya ‘ajal’ semakin mendekati mama...

===

Tepat jam 5 sore aku telah sampai di kantor suami, kamipun segera menuju RS. Keanehan terjadi lagi, jalanan begitu lapang sekali, bahkan jam ½ 6 kami telah sampai ruang ICU.

Segera saja suamiku membacakan yaasiin fadhilah dan akupun membacakan surat yaasiin. Pembacaan surat yaasiin kali ini begitu menegangkan. 2 X mesin tensimeter berubah mencari tekanan terbaru. Bahkan turunnya pu n sangat drastis. Dari 74/38 menjadi tinggal 61/35...

Mata kami terus melihat ke mesin tensimeter dan jantung. Rasanya berat sekali keluar, kami tergoda untuk menunggu angka tensi terbaru... akankah angkat tersebut terus menurun?

Tapi rupanya mesin itu tidak berubah lagi. Segera saja kudekatkan wajah ini ke telinga mama, kukatakan kata-kata yang begitu berat rasanya, yang begitu mencekat di tenggorokan ini;

“Ma... kami sudah ikhlas. Mama kan katanya mau pulang, mau melihat rumah baru? ‘Pulang’ saja Ma, rumahnya sudah siap kok... pasti mama senang.

Mama kan juga kangen sama (Alm) Bapak. Insya Allah mama bisa ketemu Bapak dan Bapak akan senang bertemu Mama.

Mama katanya juga pengen ketemu Rasul kan Ma.... dan ketemu Allah. Allah sayang lho sama Mama. Mama pasti senang bertemu dengan Allah...”

Tanpa terasa air mata ini terus mengalir dan tenggorokan ini semakin tercekat...semakin sulit mengeluarkan kata-kata perpisahan yang 'indah' tersebut. Mama akan segera bertemu Rasul dan Allah... Bukankah itu tujuan akhir hidup kita?

Sebelum keluar, ku sempatkan membacakan kalimat istighfar dan syahadat di telinga mama...
Insya Allah mama mendengarnya walaupun dia tertidur dalam koma....

===

Kamipun berkumpul kembali di kamar 308 tempat kami menginap. Kami putuskan tidak akan ada yang pulang malam ini.
Kakak sudah ada, adik sedang bersiap dari kantornya di Juanda sementara kembaranku sedang interview.

Pukul 7:30 kembaranku tiba di parkiran RS. Dan selang 5 menit kemudian telpon kamar berdering. Rupanya panggilan dari kamar ICU. Kamipun berlari kencang menuju lantai 4... masuk ke ruang ICU...

Kulihat pemandangan yang tidak ingin ‘kulihat’... dokter dan perawat sedang berjuang memompa jantung mama. Kami tau saat-saat terakhir mama telah tiba.

Allah telah mengabulkan doa kami, kami berdoa agar di saat terakhirnya Mama didampingi dengan orang-orang yang mencintainya. Alhamdulillah kembaranku dapat segera berkumpul bersama kami, dan mendoakan mama di saat-saat terakhirnya.

Dengan tenang suamiku terus mentalkinkan mama sementara kami membaca doa sakaratul maut.

Kemudian dengan sedikit hentakan kepala ke atas, mama menghembuskan napas terakhirnya... Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiuun. Ya... tepat pukul 7.41 Mama wafat.


WAJAH ITU BEGITU TENANG :

Jam 11 malam jenazah tiba di rumah duka.

Suamiku pun berkata, bukalah kain penutup wajah jenazah mama.

Akupun memberanikan diri mendekat dan dengan mengucap Basmallah kubuka pelan-pelan kain penutup wajah jenazah tersebut.


Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar... wajah itu.... begitu bening, tenang dan cantik. Mama terlihat putih dan alisnya tergaris teratur sekali... Beliau bagaikan sedang tertidur nyenyak... Dan wajahnya seperti fotonya ketika gadis...

Banyak rekan-rekan dan saudara mama mengatakan hal yang sama, mama 'cantik' dan bersih.

Begitupun ketika memandikan jenazah. Tidak kutemukan tanda-tanda lebam bekas luka di perutnya hingga paha yang sempat kulihat ketika mama terbaring di ICU. Semuanya terlihat normal....Subhanallah...

===
Akupun teringat janji Allah, bahwa sakit itu menggugurkan sebagian dosa....

Well friends, Insya Allah sakitnya mama yang begitu parah telah mengguggurkan sebagian dosa-dosanya....Insya Allah.










Mama telah 'berkumpul' kembali dengan Bapak di TPU Jeruk Purut.