Rabu, Juni 18, 2008

Mereka Terpaksa Mengemis

"Barangsiapa memberi krn Allah, menolak karena Allah, mencintai krn Allah, membenci krn Allah, dan menikah krn Allah, maka sempurnalah imannya." HR Abu Dawud

Seorang sahabat bertanya kpd Rasulullah SAW,
" Sodaqoh yg bagaimana yg paling besar pahalanya?"
Nabi SAW menjawab,
" Saat kamu bersodaqoh hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang) dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata utk fulan sekian dan utk fulan sekian." HR Al-Bukhari

Demikian sebagian hadits yang menjadi pembuka apa yang akan kami ceritakan di blog ini.
====

Beberapa waktu lalu.... biasanya malam hari di depan jendela Dunkin Donuts di Hero Mampang, duduk seorang Ibu dengan anaknya... dia menjual Rempeyek...
Harganya tidak mahal buat orang-orang yang belanja di situ... hanya 4000/bungkus...

Sayangnya, tidak banyak orang yang rela mampir dan membeli rempeyeknya...
Kerap kulihat dia hanya melamun, entah apa yang dilamunkannya....
Berapalah keuntungan yang didapatnya dari sebungkus rempeyek... Rp.2000? Rp.1000? atau malah hanya Rp.500?

Kini, setelah harga-harga melonjak naik...sang Ibu tidak lagi datang bersama bungkusan rempeyek dan anaknya...
Dia telah berubah menjadi seorang pengemis...
Dia terduduk merunduk di tangga di depan pintu masuk Giant (d/h Hero)...
Yah... waktu telah merubah cara berpikirnya.... dia tidak dapat berusaha lagi menjadi orang dengan tangan di atas... tapi dia telah berubah menjadi orang dengan tangan di bawah...

Mungkin sebagian orang akan mencibirnya....
Usia masih 35-45 tahunan, sehat.... tapi kenapa mau ya jadi pengemis????
Namun bagi orang yang mengenal dan mengetahuinya.... miris hati ini melihatnya.....
Mungkin dia-pun tidak ingin menjadi pengemis...
Tapi itulah 'pilihan' terakhir yang harus dilakukannya demi anak-anaknya di rumah....
Dia tidak sanggup lagi beli minyak/gas yang naik harganya... begitu pula kebutuhan pokok lainnya....
Lebih baik mengemis daripada anak-anak tidak makan....mungkin begitu pikirnya.

====

Friends, ada lagi satu pengalaman dengan pengemis yang saya temui..

Setiap sore sepulang kantor, di pinggir sungai dekat lampu merah Toyota-Sunter, berdiri seorang ibu rapih dengan rambut tersisir kebelakang dan anaknya yang cacat mental berumur +/- 6 tahun.
Setiap ada yang memberi sedekah, sang anak dengan bimbingan sang ibu akan tersenyum dan mengucapkan "terima kasih" dengan susah payah....
Dan mereka pun akan tersenyum manis dan bahagia, setiap orang yang bersedekah, membalas senyum mereka...Duh, jarang melihat senyum ikhlas pengemis di jaman yang semakin menggila ini….

Medio Feb-Mar 2008, ketika Ibunda saya terbaring di ICU, saya kerap meminta mereka mendoakan Ibu saya sembari memberikan sedikit sedekah....
Saya teringat makbulnya doa-doa orang seperti mereka....
Setiap saya utarakan hal tersebut, sang Ibu akan berucap..."Allah Maha Tahu Bu...." Amiin

Waktu terus berlalu, dan rutinitas itupun seperti saat yang ditunggu-tunggu, baik olehku maupun oleh Ibu dan anak tsb....
Mereka akan berlari-lari kecil ketika mobil kami mendekat, dan terjadilah interaksi yang ‘indah’ di antara kita…

Tak terasa, Mama-pun dipanggil oleh Yang Maha Kuasa....
Dan kusampaikan berita tersebut ke Ibu Pengemis di suatu sore....

Ternyata, ucapannya membuatku makin miris "Iya...Bu, suami saya pun dipanggil Allah Agustus tahun lalu"...
Astaghfirullah al'adziim.... Terbayang di wajah saya.... bagaimana sulitnya beliau membesarkan anaknya yang cacat mental setelah ditinggal suami...
Mungkin ia ingin bekerja, tapi dia tidak bisa meninggalkan anaknya....
Berapa banyak orang yang mengetahui hal tersebut?
Berapa banyak orang yang 'ridho' memberinya sedekah melihat penampilannya yang tidak kumal?

"Orang yg mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin ibarat berjihad di jalan Allah dan ibarat orang shalat malam. Ia tdk merasa lelah dan ia juga ibarat orang berpuasa yg tdk berbuka". HR Al Bukhari

Ternyata kita hanya mampu berpendapat, tanpa mengetahui kehidupan mereka sebenarnya....

Kini semuanya kembali kepada diri kita masing-masing.....
Janganlah berprasangka buruk kepada pengemis-pengemis itu.... kita tidak tahu apa yang mereka hadapi....

Daripada mencibir dan menimbulkan dosa, lebih baik diam...
Atau berikanlah sedekah dan doa agar hidup mereka berkah dan dimudahkan.
Insya Allah, pahala akan kita raih....

"Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain" HR Ahmad

Memang banyak orang yang pura-pura jadi pengemis...
Namun bisakah kita membedakannya mana yang benar dan mana yang bukan?
Jangan-jangan dengan berprasangka buruk dan menghindar mensedekahkan harta, kita telah melewatkan rahmah dari Allah melalui pengemis tersebut.....

Allah Tabaraka wata'ala berfirman (hadist Qudsi): "Hai anak Adam infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku akan memberikan nafkah kepadamu." HR Muslim

Insya Allah

Rabu, Juni 11, 2008

Kisah 3 Buah HP

Sabtu tanggal 7 Juni 2008, keponakan kami, David merayakan Ultahnya yang ke-9.

Wah Fara dan Fira senang sekali.. diajak main Bowling....di EX.

Ini kali pertama mereka main bowling... jadi sepertinya mereka lupa waktu...

Selesai bermain kita makan siang (sebenarnya sih bukan makan siang tapi makan sore) karena udah ampir jam 3.

Kami semua membawa hadiah buat David. Dan ternyata, selain memberi hadiah ke David, kembaranku juga membeli hadiah buat Fara dan Fira, yaitu telpon mainan yang jumlahnya 3 (tiga) buah...

Kenapa tiga buah?

Karena satu set emang ada 3..he..he..he..

Nah berhubung kelebihan satu buah, saudara kembar saya bilang ke Fara, "Nanti yang satunya dikasih ke Farsya ya..." (sepupu Fara yang seumuran dia).

Selama acara dan jalan-jalan mereka senang sekali main game di HP-HP an itu. Bahkan dalam hitungan menit, Fara udah jago... tidak ada yang bisa ngalahin dia...Sampai sepupunya David yang udah 9 tahun bilang, "Aku juga kalau masih kecil (seperti Fara) pasti menang!"... he..he.he.. syirik kali ye...














Fara-Fira asyik main game di HP mainan di musholla Plaza Indonesia.

Sore hari Farsya mampir sebentar ke rumah bersama Abi dan Ummanya. Langsung saja saya suruh Fara memberi HP itu ke Farsya...

Tapi ternyata Fara tidak mau, ketika HP saya berikan ke Farsya, dia mulai marah dan menangis.

Saya tanya dan berikan HP hijau Farsya ke Fara, "Kakak mau tukar HP-nya dengan yang warna Hijau ini?"

Dia jawab, "Nggaaaaaaak!!!!!" (duh kenceng banget!)

Dengan sangat terpaksa, saya ambil HP hijau tersebut dari tangan Fara untuk saya kembalikan ke Farsya...

Tidak dinyana... Fara mulai menjerit... dan Abi dan Umma Farsya mulai tidak enak, mereka menyuruh Farsya segera mengembalikan HP tersebut.

Tapi saya kekeh ke Abi dan Umma kalau HP tersebut tetap harus dikasih ke Farsya. Saya bilang Fara harus belajar "Menjalankan Amanah".

Saya bilang pada Fara, "Ini kan pesan dari Auntie Rini, HP ini untuk Farsya, kita harus ngasih ke Farsya.."

Fara malah tambah menjerit dan menangis...(Wah... malu deh ama tetangga, mana nangisnya di teras lagi)

Sayapun memantapkan hati, ini saatnya Fara belajar. Saya harus TEGA. Fara harus mengambil pelajaran hidup...

Saya abaikan saja dia menangis sampai puas...

=====

Keesokan harinya, ketika Fara mulai tenang dan ceria, saya ajak ngobrol santai.

"Kakak kok tidak mau kasih HPnya ke Farsya, sih? Itu kan sudah pesan Auntie Rini"

"Kalau kita dikasih amanah atau pesan oleh orang lain, kita harus melaksanakannya Kak...

Walaupun kakak suka, tetap harus kita kasih ke Farsya, ntar hidup nggak berkah lho Kak...karena kita tidak amanah"

Fara-pun menjawab :

"Tapi kakak pengen kasih HP-nya ke Najwa"

Saya bilang, "Lho, kan Auntie bilangnya, HP itu buat Farsya"

Fara pun menambahkan "Kemarin kakak udah bilang ke Auntie, tapi Auntie tidak dengar"

Ooh, gitu.. lain kali kalau Auntie tidak dengar, kakak harus ngomong lebih keras lagi yah!"

"Kalau gini kan, kakak yang rugi..."

"Iya...bunda...."

"Kemarin kakak juga gitu Bunda. Di sekolah, Kakak bilang ama bu Guru, kakak mau pipis, tapi Bu Guru nggak dengar, Bu Guru malah bilang, ayo cepat.. cepat... kakak harus latihan nari!... Eh... kakak jadinya ngompol BUnda!!!"

Hahhh???

"Iya..iya.. makanya lain kali kalau kita ngomong tidak kedengaran, kita harus ngomong lebih keras yah... biar mereka dengar"
"Iya bunda..."

=====

Alhamdulillah, tidak terasa sudah 2 pelajaran telah dipelajari oleh Kakak, bahwa amanah orang itu harus dijalankan, walaupun pahit. dan pelajaran kedua, bahwa ketika berkomunikasi, kakak harus yakin orang yang diajak ngomong tersebut dapat mendengar dan mengerti maksud kita.

Semoga kakak jadi anak yang amanah...Amin..

Kamis, Juni 05, 2008

My Birthday...


Kemarin pas ultah ke 38, aku iseng-iseng browsing ke salah satu milis-ku... dan aku menemukan cerita yang sangat menarik, yang punya hikmah didalamnya..

Berikut petikan dari emailku ke milis tersebut, yang aku kirimkan 2 tahun lalu, ketika mama dalam kondisi sakit-sakitan :

===

HAPPY BIRTHDAY TO ME

Dear Moms, Aku mau share sedikit tentang ulang tahunku yang ke 36 yang begitu spesial aku rasakan......

Hari itu tanggal 2 Juni 2006 jam 10:15, aku bergegas pulang ke rumah dari kantor, Mama ku agak gawat, setelah 2 X masuk ke rumah sakit, kondisinyasepertinya tambah mengkhawatirkan.

Sore harinya, kami larikan beliau ke UGD RS langganan kami....

Aah......... semuanya terasa menyedihkan.... Mama mulai meracau, meminta kami berkumpul dan mengatakan akan memberikan pesan-pesan terakhir......

Semakin waktu menjelang malam, kondisi mama semakin tidak menentu.....

Dokter memutuskan mengirim beliau ke ICU di RSPAD......

Waktu itu jam telah menunjukkan pukul 00:00 malam tepat tgl 3 Juni 2006.
Saya dan suami menemani mama di Ambulance ke Rumah Sakit, sementara kembaran saya mengendarai mobil di depan.

Tepat jam 00:15 saat 36 tahun kemaren saya di lahirkan, saya hanya dapat memandangi ibunda tercinta..... terlupakanlah kata-kata yang biasa saya ucapkan ketika ulang tahun.....

"Ma.... terima kasih ya, mama telah membimbing saya selama ini.........."

Pukul 00:45 ketika kembaran saya nongol di muka bumi ini, kamipun masih belum terpikir untuk saling mengucapkan ulang tahun..........

Aaahh.... semuanya begitu cepat.... Dan kami akhirnya tersadar ketika menjelang pukul 3 pagi.... Kembaran saya memeluk saya dan kami hanya berucap "selamat ulang tahun" dengan hambar......

Ternyata, di saat itulah kita baru merasakan, betapa arti ulang tahun itu tidak ada artinya tanpa kehadiran BUNDA tercinta........

Dari beliaulah kita terlahir...... tanpa bimbingannya, tentu kita belum tentu tumbuh dewasa seperti saat ini.....

Moms, saya hanya ingin mengajak..... ketika kita berulang tahun.... Datangilah orang tua kita (apabila masih ada) dan katakanlah "Maaf..........dan terima kasih, bahwa kita masih dapat merasakan ulang tahun kita tahun ini..............."

Jangan tunggu ucapan terima kasih dari beliau, karena sesungguhnya pengorbanan beliau adalah Hadiah TERINDAH buat kita......Amin.........

Salam YUNO

PS. tanggal 13 Juni 2006 kemaren beliau ulang tahun ke 66, dan SUBHANALLAH beliau telah lepas dari seluruh selang-selang di tubuhnya. Dan tanggal 16 (ultah kakak saya) beliau melepaskan selang terakhirnya (mulai sembuh).........
Alhamdulillah.....Kado terindah untuk beliau dari Allah SWT........

Rabu, April 16, 2008

Akhir dari sakit Mama (Hikmah di balik sakitnya Mama-4)

Sudah lebih dari dua minggu mama koma di ICU, dan seperti biasa, kami tancap gas dari kantor di Sunter jam 5 sore untuk mengejar jam besuk mama di ICU yang hanya diberikan selama 1 jam saja (jam 5 sore sampai jam 6 sore).

Biasanya kami sampai di RS sekitar jam 6 kurang atau bahkan jam 6 lewat. Senin tanggal 31 Maret 2008 kami bahkan sampai di RS jam 6.15. Untung perawat di ICU masih memberi kami kesempatan membacakan doa untuk Mama.
===
Hari ini tanggal 1 April 2008, aktivitas berjalan tidak seperti biasanya.
Entah mengapa saya sepertinya terdesak untuk segera closing bulanan. Padahal laporan konsolidasi bank asli belum kami terima. Dan di saat sedang sibuk tersebut, sayapun tergoda untuk ikut bersama teman-teman ke Gramedia dan Gunung Agung. Entah mengapa... padahal kan laporan bulanan harus segera saya selesaikan.

Di toko bukupun, mata ini hanya tertarik pada buku yang membahas mengenai sakaratul maut. Entah mengapa (lagi) saya begitu yakin kalau Mama sedang dalam masa sakaratul maut.
Sayalah yang menemani beliau di malam terakhir beliau tersadar.
Jam 1 malam beliau ‘marah’ minta pulang ke rumah. Mama bahkan menyuruh Tina (pembantu yang begitu setia merawat mama) untuk mengambil uang di dompetnya untuk naik taxi malam-malam. Mama kemudian minta pintu dibuka, minta digendong dan minta Mandi....! Kata-kata ‘mandi’ benar-benar kata yang sangat menakutkan bagiku. Aku teringat cerita orang-orang yang sakaratul maut, yang rata-rata minta dimandikan sebelum meninggal... Ah...Cepat-cepat kubuang pikiran tersebut....

Akhirnya, aku putuskan membeli buku Yasiin Fadhilah setebal 46 halaman setelah sekian lama tidak ketemu juga buku yang khusus membahas sakaratul Maut.

Kembali ke kantor, kukejar kembali pekerjaan yang tertinggal. Cepat-cepat kuserahkan hitungan-hitungan yang dibutuhkan bagian akunting untuk closing, agar seandainya terjadi apa-apa mereka segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Ya... aku tidak tau mengapa rasanya ‘ajal’ semakin mendekati mama...

===

Tepat jam 5 sore aku telah sampai di kantor suami, kamipun segera menuju RS. Keanehan terjadi lagi, jalanan begitu lapang sekali, bahkan jam ½ 6 kami telah sampai ruang ICU.

Segera saja suamiku membacakan yaasiin fadhilah dan akupun membacakan surat yaasiin. Pembacaan surat yaasiin kali ini begitu menegangkan. 2 X mesin tensimeter berubah mencari tekanan terbaru. Bahkan turunnya pu n sangat drastis. Dari 74/38 menjadi tinggal 61/35...

Mata kami terus melihat ke mesin tensimeter dan jantung. Rasanya berat sekali keluar, kami tergoda untuk menunggu angka tensi terbaru... akankah angkat tersebut terus menurun?

Tapi rupanya mesin itu tidak berubah lagi. Segera saja kudekatkan wajah ini ke telinga mama, kukatakan kata-kata yang begitu berat rasanya, yang begitu mencekat di tenggorokan ini;

“Ma... kami sudah ikhlas. Mama kan katanya mau pulang, mau melihat rumah baru? ‘Pulang’ saja Ma, rumahnya sudah siap kok... pasti mama senang.

Mama kan juga kangen sama (Alm) Bapak. Insya Allah mama bisa ketemu Bapak dan Bapak akan senang bertemu Mama.

Mama katanya juga pengen ketemu Rasul kan Ma.... dan ketemu Allah. Allah sayang lho sama Mama. Mama pasti senang bertemu dengan Allah...”

Tanpa terasa air mata ini terus mengalir dan tenggorokan ini semakin tercekat...semakin sulit mengeluarkan kata-kata perpisahan yang 'indah' tersebut. Mama akan segera bertemu Rasul dan Allah... Bukankah itu tujuan akhir hidup kita?

Sebelum keluar, ku sempatkan membacakan kalimat istighfar dan syahadat di telinga mama...
Insya Allah mama mendengarnya walaupun dia tertidur dalam koma....

===

Kamipun berkumpul kembali di kamar 308 tempat kami menginap. Kami putuskan tidak akan ada yang pulang malam ini.
Kakak sudah ada, adik sedang bersiap dari kantornya di Juanda sementara kembaranku sedang interview.

Pukul 7:30 kembaranku tiba di parkiran RS. Dan selang 5 menit kemudian telpon kamar berdering. Rupanya panggilan dari kamar ICU. Kamipun berlari kencang menuju lantai 4... masuk ke ruang ICU...

Kulihat pemandangan yang tidak ingin ‘kulihat’... dokter dan perawat sedang berjuang memompa jantung mama. Kami tau saat-saat terakhir mama telah tiba.

Allah telah mengabulkan doa kami, kami berdoa agar di saat terakhirnya Mama didampingi dengan orang-orang yang mencintainya. Alhamdulillah kembaranku dapat segera berkumpul bersama kami, dan mendoakan mama di saat-saat terakhirnya.

Dengan tenang suamiku terus mentalkinkan mama sementara kami membaca doa sakaratul maut.

Kemudian dengan sedikit hentakan kepala ke atas, mama menghembuskan napas terakhirnya... Inna lillahi wa inna ilaihi ro’jiuun. Ya... tepat pukul 7.41 Mama wafat.


WAJAH ITU BEGITU TENANG :

Jam 11 malam jenazah tiba di rumah duka.

Suamiku pun berkata, bukalah kain penutup wajah jenazah mama.

Akupun memberanikan diri mendekat dan dengan mengucap Basmallah kubuka pelan-pelan kain penutup wajah jenazah tersebut.


Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar... wajah itu.... begitu bening, tenang dan cantik. Mama terlihat putih dan alisnya tergaris teratur sekali... Beliau bagaikan sedang tertidur nyenyak... Dan wajahnya seperti fotonya ketika gadis...

Banyak rekan-rekan dan saudara mama mengatakan hal yang sama, mama 'cantik' dan bersih.

Begitupun ketika memandikan jenazah. Tidak kutemukan tanda-tanda lebam bekas luka di perutnya hingga paha yang sempat kulihat ketika mama terbaring di ICU. Semuanya terlihat normal....Subhanallah...

===
Akupun teringat janji Allah, bahwa sakit itu menggugurkan sebagian dosa....

Well friends, Insya Allah sakitnya mama yang begitu parah telah mengguggurkan sebagian dosa-dosanya....Insya Allah.










Mama telah 'berkumpul' kembali dengan Bapak di TPU Jeruk Purut.

Rabu, Maret 19, 2008

Kisah 1/4 Bolu Gulung (Hikmah di balik sakitnya Mama - 3)

Friends, sudah lama sebenarnya saya ingin posting tulisan...
Tapi kok hati ini bimbang terus ya??

Mama sudah lama terbaring di Rumah Sakit (sejak 22 Jan 2008), kondisinya pun naik turun...

Setiap saya membuka komputer, sepertinya semua yang ada di otak itu menguap...
Yah... saya tahu, pikiran saya tidak di "situ"...

Saat ini kondisi mama kritis dan harus terbaring di ICU sejak Senin 17 Maret 2008.

Kami bergiliran menginap dan menungguinya di Rumah Sakit. Iya kami, semua anak-anaknya yang berjumlah 4 orang melakukan rolling dengan adil...demi Mama..

Kata-kata "Adil" memang sangat erat dengan kami berempat, anak-anak Mama...
Adil dalam artian sama rata atau proporsional tanpa ada yang dizhalimi..

Kami sangat bersyukur karena sebagai orang tua, Bapak dan Mama telah mengajarkan sifat adil di antara kami...

Di keluarga kami, Bapak dan Mama tidak mengijinkan seorang kakak memerintah adiknya. Yang mereka ajarkan adalah SEMUA ANAK harus saling hormat menghormati dan bersikap ADIL serta proporsional. Tidak ada kata kakak lebih dari adik tetapi semua adalah Saudara.

Pengalaman berikut mungkin dapat menggambarkan pengajaran yang telah diberikan Bapak dan Mama:

Dulu kalau Mama pulang Arisan pasti beliau membawa kue-kue dari Arisan.

Kami anak-anaknya, langsung lari ke dapur mengambil pisau dan mulai mengukur-ngukur sudut potong mana yang paling adil, agar semua anak mendapat bagian...

Bayangkan, walaupun itu sepotong kue bolu gulung kecil, semua anak tetap harus mendapatkan 1/4 bagian... he..he.. (padahal kalau pake istilah sekarang... anak-anak pasti akan bilang "Itu mah ngotorin lidah doang....! ha..ha.ha..ha..). Kecil banget lho friends jadinya, tapi biarlah yang penting ngerasain....

Nah biar keadilan semakin ditegakkan, kita akan menunjuk seorang perwakilan untuk melakukan pemotongan kue itu. Yang ditunjuk sebagai perwakilan tersebut sebenarnya bukan beruntung tetapi malah 'apes'...

Mengapa ? karena yang motong tidak boleh milih duluan ! dia di akhir ritual pemotongan kue tersebut harus rela menerima sisa kue yang tidak terpilih... alias yang paling kecil!
==============

Tidak terasa, pengalaman di waktu kecil itu sangat berarti buat kita di saat dewasa ini...

Sekarang, kami dengan adil berusaha membagi waktu sebaik-baiknya untuk bergiliran menjaga mama... Kami sadar setiap anak pasti mempunyai kesibukan dan kepentingan, tetapi kami insya Allah dengan bekal pelajaran dari Mama dapat melakukan rolling tersebut dengan adil dan tanpa harus ada yang merasa terpaksa atau dipaksa...
==============












Terima kasih Mama, semoga Allah memberikan yang terbaik buat Mama, sebagaimana Mama telah memberikan kepada kami bekal yang terbaik... Amin..

Mama, dengan anak, mantu, cucu (Kakak tidak ikut)

Selasa, Maret 11, 2008

Pembantu oh Pembantu..

“Eshii.... kamu mau kemana?” demikian teriakku, melihat pembantuku lari ke gerbang sebelum aku selesai menyebutkan pesan yang akan disampaikan ke tamu di pintu gerbang.

“Mau bilang pesan Ibuke depan!” begitu jawabnya polos
“Lho aku kan belum bilang pesannya?”
“Oh iya bu...lupa...he..he..he...”

=====

Begitulah kira-kira percakapan konyol yang sering terjadi antara kita dengan para PRT.
Mereka memang berbeda dengan kita..Butuh kesabaran luar biasa menghadapi cara berpikir mereka. Apalagi kalau mendapatkan pembantu yang polos dan pelupa...duh ampun deh...

Tapi, daripada pusing mikirin kekurangan mereka, lebih baik kita jadikan mereka tempat untuk melatih kesabaran dan ikhlas...

Dan yang pasti, kejadian-kejadian tersebut adalah hiburan/humor untuk dikenang.

Berikut beberapa banyolan yang sempat kami himpun :

=====

“Mel, tolong aku beliin bakso Udin ya”, demikian ujar suamiku,
“Ingat ya, jangan pake mie” lanjutnya
“Iya pak!, Tidak pake mie ya pak?”
“Iya”
“Hm.. tidak pake mihun juga pak?”
“Iya, tidak usah pake mihun.. Baksonya aza!”
“Hm...Pake kuah nggak pak?...”
“Duh... **** ...***!”

=====

Kalau yang berikut pengalaman teman adik saya dengan pembantu barunya yang belum pernah bekerja.

“Aku mau pergi dulu ya, nanti pulang siapin makan siang?”
"Iya Mba"
"Kamu bisa masak nggak?"
“Ngga bisa Mba”
“Kalau gitu bikinin tahu goreng aza deh”
“Iya Mba”
“Bisa tidak bikinnya?”
“Tidak Mba”
“Gampang kok, tahu ama garam doang”
"Iya Mba”

Ahaa...! benar aza sepulang pergi, teman adik saya menemukan makan siang sudah tersaji di meja: tahu mentah dan garam di meja makan!

=====

Yang ini lebih konyol lagi :
Teman saya minta dimasakkan air panas untuk mandi jam 5 kurang di pagi hari.
Ternyata teman saya bangunnya sudah jam 5 lewat.
Dan sang pembantu dengan polosnya menolak memasak air mandi karena teman saya kan nyuruhnya jam 5 kurang, sekarang udah jam 5 lewat. Jadi perintahnya udah lewat...

CAPPE DEH!

=====

"Mel aku butuh kertas kado dan pitanya untuk bungkus kado ultah teman Fara. Kamu ke warung ya. Beliin kertas kado dan pitanya yang warnya cocok dengan kertas kadonya!"
"Iya Bu... warna apa?"
"Warna apa saja. Kalau kertasnya pink pitanya pink, kalau kertasnya kuning pitanya kuning.. Pokoknya cari pitanya yang warnanya pas deh"

Beberapa menit kemudian si Imel pulang dari warung:

"Bu uangnya pas, tidak ada kembaliannya"
"Haa... mahal amat..., mana sini saya lihat"
"Ya Allah Mel... banyak sekali kamu beli pita.. " jeritku melihat Imel memperlihatkan 3 GULUNG pita kado warna pink, kuning, dan hijau muda.
"Iya Bu... warnanya cocok kan sama kertas kadonya?" sambil memperlihatkan satu kertas kado berwarna-warni....

Ampuuuun deh... padahal tadi maksudku beli pita yang udah jadi satu biji aza!... kenapa jadi 3 gulung yang dibeli.... (emang salahku siih yang tidak kasih perintah dengan lengkap...)

======

"Bu ada tamu di depan 4 orang..." Begitu suara pembantuku di telepon.
"Mau cari siapa?"
"Katanya saudaranya Bapak, mau cari Ibu"
"Coba kamu tanya namanya!"
"Hah... nama saya Bu ???"

CAPPPEE DEEEH...

Minggu, Maret 02, 2008

Belajar Kecewa

Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu buah hati kami...
Inilah saatnya mereka bisa bercengkerama dengan kami... dan saat nya keluar dari rumah untuk berjalan-jalan bersama-sama...
Biasanya malam hari sebelum tidur si Kakak (Fara) akan bertanya,

“Ayah-bunda, besok kalau aku bangun begini, aku ke sekolah tidak?”

“Tidak sayang, besok hari Minggu, ayah, bunda dan kakak Libur!, Ayah-bunda tidak ke kantor, dan kakak juga tidak sekolah”.....jawab kami.

“Asyiiiik..” jeritnya, dan kakakpun tertidur pulas dengan senyum di bibirnya....menanti minggu yang kami janjikan.

Minggu pagi ini kami janji mengajak Kakak dan Dede main ke Time Zone.
Pagi sekali kakak sudah bangun, sudah mandi dan segera mengenakan baju pergi pink kesukaannya..
Kami-pun bergegas makan pagi bersama, sementara kakak dan dede sabar menunggu di ruang TV.


Namun tanpa terduga, hujan turun dengan derasnya....
Kamipun merasa gundah.. AC mobil sedang rusak! Repot sekali kalau kita harus pergi ketika sedang hujan.
Aduh.. sedih rasanya membayangkan kecewanya Kakak tidak jadi main ke Time Zone.

Sebagai orang tua kami menyadari inilah saatnya kakak belajar kecewa.
Kelak dia akan menghadapi situasi seperti ini berulang kali. Kehidupan ini seringkali berjalan tidak sesuai rencana, kakak harus belajar untuk tidak memaksakan kehendaknya.

Kemudian kamipun memanggil kakak ke ruang makan
“Kakaaaak sini deh...”
“Ada apa bunda?”
“Kakak liat tidak di luar itu apa?”
“Ooh..hujan bunda!”
“Kalau hujan begini, repot ya Kak ke Time Zone-nya?”

“Wah, repot bunda...”

“Hmmm... kalau gitu ke Time Zone-nya lain kali aza yah... kalau tidak hujan”
Agak lama kakak terdiam... dia sedang berpikir keras dan kami tau ada raut kekecewaan di wajahnya.

Selang beberapa menit kemudian, kakakpun berujar,
“Lain kali aza deh Ayah-Bunda...” Kakakpun berlari kecil ke ruang TV untuk bermain kembali bersama adiknya..

Well Friends, selama ini tanpa sadar kita sering memaksakan kehendak kita kepada anak-anak. Ketika situasi memaksa kita merubah rencana, kita sering berbicara kepada anak-anak seperti seorang diktator. Kita lupa bahwa mereka juga ‘dapat’ melihat dan berpikir seperti kita.

Alhamdulillah, satu pelajaran telah kami ajarkan kepada Kakak. Semoga kakak dapat menjadi anak yang sabar dan mengerti bahwa kecewa hanyalah salah satu rasa untuk melatih kesabaran.... insya Allah.

Kamis, Februari 21, 2008

Hikmah dibalik sakitnya Mama (2)

“Nanti kalau kalian tua, kalian juga akan seperti ini (pikun)”… demikian kata-kata dokter yang merawat mama yang membuat kami tersentak…

Yah..mama sudah 64 tahun, sudah memasuki masa lansia. Sedikit demi sedikit daya ingatnya berkurang, sebentar-sebentar dia berujar “saya lupa, saya sudah lupa”…

Kami anak-anaknya, harus maklum karena kami-pun akan tua, akan berkurang daya ingatnya… Ini sudah suratan Allah…

(QS An Nahl : 70) “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”

Bahkan ilmu kedokteran-pun telah melakukan penelitian tersebut, seperti yang diuraikan oleh Dr Hadril Busudin ketika meresmikan klinik Gerontology (klinik untuk orang tua-tua) di DKK Kodya Padang pada tgl 22 Oktober 1994 bahwa

“Penyakit lupa adalah penyakit yang paling sering menghinggapi orang tua, karena otak yang menua. Otak yang tua, permukaan otaknya menjadi mengecil dan saluran serta rongga-rongga didalamnya menjadi luas dan lebar dan diikuti berkurangnya mielin atau selubung saraf. Aliran darah setempatpun menjadi berkurang karena pembuluh darah menjadi kaku dan keras, kurang elastis. Semua ini menimbulkan kemunduran intelektual yang kita kenal dengan "pikun" terutama menjelang usia 70 tahun”.

Lalu bagaimanakah kita menyikapinya ?

Ternyata otak ini harus terus dilatih untuk bekerja-bekerja-bekerja dan mengolah/mengambil hikmah dari setiap kejadian…. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang yang rajin membaca atau menghafal Al Quran mempunyai daya ingat yang sangat baik….

Kita saat ini hidup di kenikmatan duniawi yang sebenarnya kelak justru merusak kehidupan duniawi kita… Otak kita semakin malas untuk berpikir karena kemudahan yang terus disajikan dikehidupan kita…
Coba sekarang teman-teman hitung 187 X 3 sama dengan berapa ?
Pasti teman-teman berharap ‘coba kalau ada kalkulator!’

Nah sekarang semuanya kembali kepada diri kita, akankah masa tua kita dipersulit dengan pikun atau masih mempunyai daya pikir yang dapat diandalkan?

Semuanya tergantung pada diri kita, maukah kita untuk terus membaca & mengkaji isi Al Qur’an, membaca koran/berita penting, berhitung manual dan lain-lain agar masa tua kita tidak dipersulit dengan penyakit pikun yang parah???

Ingatlah kembali ayat Al Qur’an di atas dan ucapan dokter yang membuat kami tersentak tersebut “Nanti kalau kalian tua, kalian juga akan seperti ini (pikun)!”…

Senin, Februari 18, 2008

Berkah di balik Sate + Gule Kambing

Cerita ini terjadi di bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu.

Seorang rekan kantor yang sedang cuti bersalin akan melaksanakan aqiqah anak keduanya di bulan suci Ramadan. Dia berjanji akan mengirimkan makanan aqiqah (sate dan gule kambing) ke kantorku di Harmoni.

Namun ternyata hingga jelang sore, rekan kantor yang mengambil makanan tersebut ke rawamangun, belum juga kembali ke kantor... Padahal jam hampir menunjukkan pukul 4 sore... jamnya pulang kantor...

Kita yang biasa pulang naik transJakarta, harus segera bergegas pulang.. karena biasanya di bulan suci Ramadhan ini, bis bak kaleng sarden... Semua orang ingin buka puasa di rumah dan mengikuti sholat tarawih...

Hatiku pun mulai ragu, akankah menunggu hidangan lezat tersebut tapi harus antri dan berdesak-desakan di TransJakarta ataukah pulang sekarang dan mengabaikan berkat teman tersebut?

Namun kemudian akupun tersentak... Kalau semua karwayan pada pulang, siapakah yang akan menerima berkat tersebut? Bagaimanakah perasaan rekanku ketika tau berkatnya tidak ada yang mengambil, padahal ia telah bersusah payah menyiapkannya ?

Aku kemudian belajar ber-empati dalam hal ini, mencoba merasakan bagaimana rasanya apabila itu terjadi pada diriku?? Kecewakah hati ini ??

Ketika aku cetuskan perasaan itu kepada suami, diapun mempunyai empati yang sama.. "Bahwa sebaiknya kita menghargai pemberian teman tersebut... dan agar aku bersabar menunggu rekan yang membawa bingkisan tersebut"

Alhamdulillah jam 4.30 rekan yang membawa bingkisan itu datang.
Namun sebagian besar rekan-rekan sudah pada pulang..

Alhamdulillah akupun mendapatkan nasi berkat lebih (...eh maksudnya sate and gule kambing lebih...)

=============

Nah, kini saatnya daku berkejaran dengan penumpang lainnya untuk mendapatkan tempat di transJakarta yang sudah kebayang bakalan penuh sesak....

Tetapi taukah friends, Subhanallah…. Keajaiban terjadi… :
  • Aku tidak perlu antri beli tiket
  • Tidak perlu lari ke pintu halte yang berada di ujung
  • Tidak perlu menunggu bis karena bis 01 pas datang ketika aku menuju pintu halte
  • dan …aku langsung dapat tempat duduk!!!

Hal yang tidak pernah aku rasakan di bulan Ramadhan, dimana transjakarta biasanya penuh sesak bak kaleng sarden… Benar-benar kemudahan dari Allah....

=========

So friends, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita, bahwa berkorban sedikit untuk saudara, insya Allah tidak akan sia-sia, percayalah, bahwa Allah yang akan meringankan langkah kita selanjutnya… Insya Allah.

Rabu, Februari 13, 2008

Hikmah di balik sakitnya Mama



Mama yang sangat kami sayangi, yang telah membesarkan kami harus dirawat di rumah sakit karena komplikasi beberapa penyakit sejak Jan 22, 2008. Bahkan beliau harus dirawat di ImCu dan menjalani HD serta transfusi darah.

Kami anak-anaknya bergantian menjaga beliau. Sedih hati ini melihat perjuangannya menghadapi berbagai penyakit yang terus mengrogotinya...

Namun yang jauh membuat kami lebih terharu adalah :

Di kala sadar beliau masih sempat bertanya... "Anak-anak disini semua? Apa kalian tidak harus ke kantor?". Beliau merasa sangat merepotkan kami...

Benar-benar perkataan tulus seorang Ibu yang tidak pernah lelah memikirkan kami anak-anaknya. Bukankah kami telah dewasa?

Bukan lagi saatnya beliau memikirkan kami, tapi inilah saatnya kami membalas budi jasanya yang telah merawat dan membimbing kami hingga dapat dengan sabar merawat beliau...

Seandainya beliau tidak membimbing kami dengan baik, belum tentu kami dapat sabar menghadapi cobaan ini...

Saat ini mama telah memasuki masa kembali seperti anak kecil, begitulah yang telah difirmankan dalam Al Qur'an.. Dan merawat anak kecil itu sangat berbeda dengan merawat orang dewasa, mereka dapat berpikir dan mencerna segala tingkah laku dan perkataan kita.... Kita pun harus siap lahir dan batin..

Hal ini mengingatkanku pada kejadian beberapa waktu lalu... ketika rasa capek telah memuncak dan amarah akan keluar karena kelakukan anak-anak, suami mengingatkan.. "Bunda harus sabar, merekalah nanti yang akan merawat kita... Kalau kita tidak sabar memegang amanah ini, nanti mereka juga tidak akan sabar saat merawat kita di hari tua..."

Dan sayapun tersadar... kita kadang cepat naik amarah ketika menghadapi kenakalan/keisengan si kecil.. namun kita lupa.. bahwa nanti ketika kita tua, ketika kita kembali ke usia anak-anak (seperti mereka), mereka juga harus sabar menghadapi kita.....

Jumat, Februari 01, 2008

5 things I just.......

Mama lagi sakit kritis... eh dapat PR estafet nih dari Bunda Asa, Malaysia...

Yah dikerjain aza deh....


5 things in my bag :

  1. Dompet
  2. Kotak Make-up
  3. Tas kecil isi charger HP, kunci2, USB, cable USB
  4. Payung kecil
  5. Apa lagi yah??? kalau pulang kantor sih.. pasti bawa koran pribadi

5 things found in my wallet :

  1. Uang Rupiah
  2. Foto ama suami tersayaaaaaang
  3. Kartu debit + kredit
  4. BOn-Bon atau bekas struk ATM (hii..hiii malas ya)
  5. Kartu Rumah Sakit + ASuransi

5 things found in my room :

  1. Perabot kamar (pasti dooong)
  2. Lukisan Ayat Kursi
  3. TV
  4. Buku-buku-buku-buku and resep-resep
  5. Perlengkapan Sholat

5 things I’ve always wanted to do:

  1. Naik Haji
  2. Punya bisnis yang sesuai syariah (islami)
  3. Berbagi ilmu (ini udah kali ya lewat blog)
  4. Bisa ngerti bahasa Arab... biar kalau sholat jamaah and ngaji... ngerti artinya dan bisa khusyu...
  5. Punya rumah yang kecil tapi nyaman

5 things I’ve currently into :

  1. Merawat mama yang masih terbaring di rumah sakit sejak 22 Jan 2008 dan barusan aza hari ini keluar dari ruang IMCU
  2. Stress kerjaan numpuk
  3. Bersyukur tiba-tiba seluruh kerjaan ada yang ngerespon secara serentak
  4. Pindahan rumah mama yang baru selesai renovasi
  5. Jual perhiasaan buat beli notebook... he..he..he..

Udah ah gitu aza.... aku lanjutin ke Mba Sandra-Malaysia yah... http://sandraimawati.blogspot.com/

Sabtu, Januari 26, 2008

Saya belum diludahin....

Kisah ini tidak akan pernah hilang dari ingatan...

Beberapa tahun yang lalu, saya mempunyai seorang atasan yang sangat berwibawa, berkharisma, tegas tetapi mempunyai jiwa kekeluargaan...
Kharisma beliau begitu terasa, sehingga kami bertekuk lutut ketika berhadapan dengannya...
Kata-katanya tajam dan langsung kena sasaran... benar-benar seorang pemimpin yang berwibawa...

Rekanannya sangat sangat banyak, suaminya bekas menteri dan diapun seorang pemimpin yang sangat disegani...
Sangat beruntung orang yang dapat berbicara 'rileks' kepadanya... dan itupun hanya orang-orang pilihannya...

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2004-2005...
Kala itu kantor kami akan kedatangan rombongan tamu untuk menemui beliau. Sudah sewajarnya kami menyediakan santapan siang untuk sang tamu.

Boss kamipun menelepon, agar kami menyediakan makanan kegemarannya. Nasi hainam dari authentic Chinese Restaurant di kawasan Harmoni..

Astaghfirullah... saya yakin sekali kalau nasi hainam tersebut mengandung lemak babi, karena saya pernah mencobanya dan tersadar kalau makanan tersebut diberi lemak babi.
Tanpa buang waktu saya telepon rumah makan tersebut, dan mendapat kepastian bahwa nasi tersebut memang mempergunakan minyak babi untuk menjaga cita rasa.

Ahh... galau rasanya hati ini...
Saya yang bertanggung jawab melakukan pembayaran makanan tersebut menjadi bimbang tiada kepalang. Bagaiman tidak ? rombongan tamu kami ini adalah orang-orang muslim, bapaknya telah berhaji dan wanitanya berjilbab.

Saya coba minta tolong rekan-rekan senior untuk menyampaikannya ke boss kami. Tapi apa daya.. tidak ada satupun yang berani....'bunuh diri'... !
Bayangkan, bagaimana marahnya beliau kalau keinginannya tidak kami penuhi...

Pilihan terakhir, saya mohon bantuan ke orang kepercayaannya...orang yang cukup dekat dengan beliau... tetapi... aah ia-pun tak punya nyali untuk mengutarakannya....

Tanpa terasa jam terus berputar semakin sedikit waktu yang tersisa, semakin galau hati ini...

saya HARUS menyelamatkan rombongan tersebut...
saya HARUS berani menegakkan kebenaran/islam
saya HARUS menanggung resikonya, apapun yang terjadi...

Maka, sayapun memberitahukannya kepada beliau... (tidak perlu saya cerita kan ya cara memberitahunya...)

Benar saja beliau MARAH besar... kalau saya gambarkan... murka, kali ya??

====

Hari-hari selanjutnya, saya menjadi bawahan yang tidak disenanginya..
Dari seringnya diberi souvenir bagus-bagus kalau beliau ke luar kota atau ke luar negeri, menjadi 'tidak ada apa-apa'nya...
3 bulan lebih lamanya saya tidak ditegur, tidak disalami, tidak di sms....
Kecut hati ini...

Tapi nasehat suami, menaikkan semangat dalam menegakkan islam...
Beliau mengingatkan, bahwa perjuangan kita tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah... Kita belum di LUDAHIN.... seperti yang dialami Rasulullah...
Subhanallah, sejuk sekali mendengar nasehat tersebut...

Hari demi hari-pun ku jalani dengan enteng...

====

Tanpa terasa awal tahun 2006 telah tiba..
Tidak disangka sang Boss telah muncul di kantor pada tanggal 2 Jan 2006. Padahal biasanya beliau baru hadir beberapa hari kemudian...
Ada apa ya??
Beliau keliatannya sangat serius mengadakan rapat dengan direktur lainnya...

====

Rapat Direksi-pun telah selesai.. saya berlari kencang mengejar Boss... (karena saya belum mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada Beliau...!.. Beliau orang yang sangat hafal dengan hal-hal sepele seperti ini, dan sangat hafal siapa saja yang menyepelekan hal-hal tersebut...)

Kusalami tangannya, dan kamipun saling cium pipi...
Kata-katanya kemudian adalah "Mohon Maaf Lahir Batin ya Yun...?"
Lho.. saya pun terbengong-bengong, Ibu tidak salah nih, bukankah mestinya "Selamat Tahun Baru?"
Aah... tapi saya tidak mau ambil pusing.. saya katakan saja "Selamat Tahun Baru Bu"

Kemudian beliaupun berjalan ke pintu keluar...
Tapi, segera berbalik arah lagi ke diriku yang masih terbengong-bengong...

Dia belai jilbab Pink Mudaku dengan lembuuuut sekali dan berkata "Kamu cantik deh Yun pake jilbab ini.."
Dan saya hanya dapat berkata "Ibu juga cantik pake baju itu"...

====

Pagi 3 Jan 2005, jam masih menunjukkan pukul 8 pagi, tapi kantor kami telah gempar.. Ibu ditemukan meninggal tertidur di kamarnya....

Inna lillah wa inna ilaihi roo'jiuun...

Tanpa terasa air mata ini menetes membasahi pipi...
Indah sekali perpisahan yang ia berikan...
Permohonan maafnya kemarin, pastilah dari lubuk yang terdalam.
Tidak dibuat-buat.. dan dengan hati ikhlaspun, kumaafkan rasa benci beliau kepadaku...

Selamat jalan Ibu.. maafkan kesalahan hamba...
Terima Kasih Ibu.. Ibu telah menjadi jalan bagi saya untuk lebih kuat dalam menegakkan islam... Amin

Kupersembahkan tulisan ini untuk Ibu yang sangat saya cintai, yang telah banyak memberi inspirasi dan membimbing saya dalam berkarya : In Memoriam Ibu Krisni Murti Marsillam Simanjuntak...

Senin, Januari 14, 2008

Buah dari Akhlakul Karimah....

Harimau mati meninggalkan belang
Gajah mati meninggalkan gading
Manusia mati meninggalkan nama


Puisi tersebut sangat sesuai dengan apa yang akan kami ceritakan di bawah ini :

Bapak kami meninggal mendadak di tahun 2005, tepat 6 hari setelah kelahiran anak kami yang kedua…Kepergiannya sangat mengagetkan kami…. Beliau dipanggil Yang Maha Kuasa di pagi hari ketika sedang makan pagi dan bersendau gurau dengan saudara kami….
Tidak ada kata-kata pesan kepada kami….

Tetapi friends ada satu nasehat yang selalu ia ingatkan kepada kami untuk terus mengamalkannya….yaitu :
KEJUJURAN.

Nasehat beliau yang tetap kami kenang adalah :

“Di dunia ini gampang mencari orang yang pintar, tetapi SULIT mencari orang jujur”

Memang benar, Bapak sangat menghormati dan menghargai orang yang jujur. Dan kami yakin ia termasuk sedikit orang jujur yang masih dapat kita ditemui di jaman seperti ini…..

Beberapa bulan yang lalu saudara kami tanpa sengaja berkawan dengan teman kantornya yang ternyata adalah anak dari salah satu teman Bapak kami…

Selidik punya selidik, sang anak kemudian bertanya kepada ayahnya, kenalkah beliau dengan Bapak kami….???

Jawabannya membuat kami merinding dan air mata ini mengalir mengenangnya….

Sang Ayah berkata, Bapak kami adalah seseorang yang sangat disiplin dalam bekerja, ia tidak pernah keluyuran malam ketika dinas. Ketika teman-temannya sibuk mencari makan malam, ia justru hanya duduk di tempat tidur hotel di depan Televisi menyelesaikan laporan hari itu, dan masih banyak lagi hal lainnya yang diceritakan oleh Ayahnya kepada teman saudara kami tersebut….

Terakhir Ayahnya berkata, “karena kebaikan dan kejujurannya itu, maka setiap sholat saya berusaha mendoakannya… tanpa lupa menyebutkan namanya, yaitu
Pariman Herriman bin Rusmin Martosentono…”.

Allahu Akbar….tidak pernah dalam hidup ini, seseorang menyebutkan nama Bapak kami selengkap itu….
Coba rekan-rekan renungkan, pernahkah rekan-rekan dalam hidup ini mengingat/menghafal nama ayah dari teman-teman kita??

Subhanallah, pastilah Ayah teman saudara kami tersebut benar-benar menghafal nama Bapak kami untuk agar dapat mendoakannya……

Akhir kata, benarlah apa yang dilantunkan orang dalam puisi di atas :

Harimau mati meninggalkan belang
Gajah mati meninggalkan gading
Manusia mati meninggalkan nama

Kamis, Januari 03, 2008

Jangan bagikan KUPON Qurban..

Pembagian daging Qurban di Tegal ricuh, begitu pula pembagian daging qurban ditempat-tempat lainnya, seperti di Mesjid Baitus Salam, Kel. Kauman Kec. Nganjuk, Masjid Raya Bandung, RSUP dr Sudono Madiun atau tempat-tempat lainnya..... Demikianlah berita yang kerap kita dengar seputar pembagian daging kurban di Indonesia....

Mengapa jadi begini? Mengapa rakyat kecil/miskin harus di'hina'kan atau meng'hina'kan dirinya untuk mendapatkan sedikit daging qurban? Bukankah mereka seharusnya menjadi tamu di hari Raya tersebut?

Friends, kali ini kami akan berbagi sedikit pengalaman dan hikmah dari ritual pemotongan dan pembagian daging Qurban yang kami lakukan saat Idul Adha kemarin....

Sudah tradisi di keluarga suami, pemotongan hewan qurban dilakukan sendiri di rumah bersama-sama keluarga besar...
Kedengarannya menyeramkan ya???
Yah... begitulah kira-kira pandangan saya ketika pertama kali mengalaminya...

Tapi taukah friends, ternyata banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang dapat kita ambil dari tradisi tersebut...

Diawali dari pemilihan hewan qurban, kami dianjurkan untuk turun langsung melihat dan memeriksa kesehatan hewan yang akan kami potong. Mau tidak mau, ilmu mengenai hewan layak qurbanpun harus kami ketahui.


Kemudian untuk pemotongan hewan qurban, anak laki-laki harus belajar tahap-demi tahap prosesi pemotongan hewan qurban.... Mulai dari penyebutan nama pekurban, doa yang menyertainya serta tata cara pemotongan yang terbaik menurut agama....

Lalu bagaimana dengan pembagiannya?
Ternyata Alm. Abah sangat tidak setuju dengan konsep pembagian kupon....
Menurut beliau, dengan pembagian kupon tersebut, para mustahik (orang yang berhak menerima) diposisikan di'bawah' kita. Mereka juga harus menunggu dan antre yang kadang-kadang bisa menghabiskan waktu berjam-jam... Belum lagi kalau kericuhan terjadi di antara para mustahik yang saling berebut....

Alm. Abah menyuruh anak-anak untuk membagikannya langsung ke rumah-rumah para mustahik!
Memang melelahkan...... tapi ternyata makna dari kegiatan tersebut sangat dalam...

Kantung daging Qurban yang telah diberi label dan siap diantarkan.

Ini berarti kita anak-anaknya diajarkan untuk mengenal kerabat dan tetangga/warga kita yang miskin...

QS Al Hujurat : 13 "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Sadarkah kita, di dunia yang serba modern dan cepat ini, kita semakin jarang berinteraksi dengan warga sekitar?....

Dengan mendatangi langsung para mustahik, kita menempatkan diri mereka sejajar dengan kita!... bahkan berarti kita menghormati mereka... Benar-benar tradisi yang islami....



Saudara-saudara sedang memotong-motong dan menimbang daging qurban untuk dibagikan.


Nah sekarang coba kita renungkan, seandainya... mesjid-mesjid, RT/RW ataupun instansi yang melakukan qurban mendata warganya yang miskin atau berhak ... kemudian mengantarkannya langsung ke rumah mereka... insya Allah kericuhan di atas dapat dihindarkan........

Ini juga berarti silahturrahiim antar warga baik miskin dan kaya semakin terbina dengan baik.... Insya Allah...

Senin, Desember 24, 2007

Warung Betawi


Warung ini terletak di ujung jalan kenanga, ampera.

Jelas banget ya betawinya. nasi uduk AME gado2 betawi....
kayaknya, ditulis nasi uduk AME gado2 doang... orang udah tau, kalau yang jual orang betawi .. :-)

Kamis, Desember 20, 2007

Qurban Terbaik

Lumayan panjaaang.... tapi bergetar hati ini membaca,...
Well Friends, happy reading :
QURBAN TERBAIK
Oleh Jojo Wahyudi

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.
Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan Nabi Allah Ibrahim & Nabi Ismail.
Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.
" Berapa harga kambing yang itu pak ?" ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.
" Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.
" Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.
" Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si pedagang bertahan.
" Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama
" Maaf pak, masih jauh." ujarnya cuek.
Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.
" Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?" kataku
" Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek
" Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.
" Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.
Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.
" Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku kemudian
" Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah" katanya
Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi.
Meskipun pakaian "korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.
" Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum
" Dua juta tidak kurang tidak lebih kek." kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.
" Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?" kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan
" bisa di tawar-kan ya mas ?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.
" Cari kambing yang lain aja kek. " si pedagang terlihat semakin malas meladeni.
" Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas." katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.
Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.
" Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.
Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi.
Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.
" Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan
" Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih
" Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yg cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek
" mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)
" Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya
" tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu).
"Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku.
Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.
Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku.
Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek.Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.
Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.
Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi.
Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super
Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya
Yang sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga seminggu sekali
Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus
Tapi apa yang aku pikirkan?Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana.
Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.
Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.

(Cikini, 12-11-07)

Rabu, Desember 19, 2007

Idul Adha 19 atau 20 Des?



Idul Adha tanggal 19 atau 20 yah????

Begitulah contoh pertanyaan yg kerap muncul ketika kita akan melakukan sholat Idul Adha..

Banyak sahabat yang mem'pasrahkan'nya kepada keputusan pemerintah, ada sebagian yang mengikuti ormas islam yang dipercayainya...

Tapi sadarkah kita bahwa ibadah kita semata-mata berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist?

Inilah yang menjadi landasan kami dalam memutuskan merayakan Idul Adha pada tanggal 19 Desember 2007, bukan tanggal 20 berdasarkan keputusan Pemerintah...

Ketika kami memutuskan untuk sholat tanggal 19, ada sahabat bahkan yang bertanya, "aliran mana tuh?"... atau ada yang lebih lucu lagi "Wah... nggak lucu dong, abis sholat langsung ngantor...? Nggak libur"



Suasana sholat di samping gedung Dewan Dakwah yang penuh sumpek.

Kloter 2 sholat Ied bersiap-siap masuk gedung Dewan Dakwah Islam - Jakarta


Friends, untuk itu kami mencoba berbagi sedikit ilmu yang kami dapat agar ibadah kita insya Allah dirahmati Allah SWT...

Ulasan dibawah ini merupakan forward-forwardan dari berbagai sumber, sehingga maaf saya tidak dapat menuliskan sumbernya.


Kapan Shalat Iedul Adha?


Muhammad Syamlan, Lc.Pimpinan Lembaga Da'wah dan Ilmu Pengetahuan Islam Ma'had RabbaniBengkulu Sekum MUI Prop. Bengkulu, "setelah perbedaan penentuan Idul Fitri dua bulan lalu, kini kita kembali "dibingungkan" dengan penentuan Idul Adlha.

Ada fihak yang menentukan hari Rabu, bertepatan dengan tanggal 19 Desember dan ada fihak yang menetapkan baru besoknya, yaitu hari Kamis 20 Desember.

Barangkali ada yang sampai tak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi?

'Idul Fithri berbeda, Idul Adlha juga berbeda! Dalam soal penentuan Idul Fithri, barangkali masih punya dalil yang bisa diterima untuk berbeda karena perhitungan-perhitungan matla' antar wilayah yang bisa berbeda di samping pedoman hisab dan rukyah yang sulit dipertemukan, meskipun jelas menurut jumhurul ulama (selain madzab Syafi'i) ummat Islam sedunia hendaknya marayakan Idul Fithri pada hari yang sama. (Lihat Alfiqhul Islami waadillatuh, Wahbah Zuhaili).

Tapi dalam persoalan penentuan 'Idul Adlha ini ada pedoman yang seharusnya menjadikannya sangat jelas yaitu rangkaian ibadah haji yang diikuti oleh seluruh jama'ah dari berbagai penjuru dunia tanpa ada perselisihan di antara mereka, khususnya dalam menetapkan kapan Wuquf di Arafah dan hari penyembilihan kurban (yaumun nahr).

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengedarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (Al-Haj:27).

Perlu dimaklumi bersama bahwa pelaksanaan Shalat 'Idul Adha adalah dilakukan pada hari "Nahr" yaitu pada saat jama'ah haji melakukan penyembelihan hewan qurban di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah, sepulang dari 'Arafah.

Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari 'Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:

"Hari ('Idul) Fithr kamu adalah pada hari kamu berbuka (selesai Ramadhan), dan hari ('idul) Adlha kamu adalah saat kamu menyembelih hewan qurban, dan hari (wukuf di) 'Arafah kamu pada hari yang kamu ketahui."

Penjelasan Nabi ini bersifat umum; mengenai semua orang yang hidup di zaman beliau maupun setelahnya, juga semua ummat Islam yang berada di tempat manasik haji maupun di daerah lain.

Sedang puasa 'arafah yaitu sehari sebelum hari raya, sudah barang tentu bertepatan dengan jam'ah haji sedang wukuf di Arafah. Oleh karena itu, puasa arafah ini hanya sunnah bagi yang tidak sedang haji, adapun bagi yang sedang haji, pada hari 'arafah mereka wukuf di 'arafah, mereka justru tak boleh berpuasa.

Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah meriwayat dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah melarang berpuasa pada hari 'Arafah di 'Arafah.

Puasa 'arafah disunnahkan bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, hikmahnya sangat jelas, yaitu agar kita seakan turut serta merasakan suasana wukuf di 'arafah itu.

Dengan demikian, di zaman yang sangat canggih seperti ini, di mana jadwal dan kegiatan jama'ah haji di Makkah sana bisa kita ikuti beritanya setiap saat bahkan setiap detik, maka adalah suatu kenaifan bila kita dalam menentukan puasa arafah dan juga Idul Adlha punya jadwal sendiri, seakan tak ada kaitan dan tak mau tahu dengan pelaksanaan ibadah haji oleh kaum muslimin yang sedang berlangsung.

Dengan memperhatikan jadwal pelaksanaan ibadah haji tahun ini, yang dengan jelas telah diumumkan bahwa wuquf di arafah adalah jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal 18 Desember dan hari raya 'Idul Adlha adalah jatuh pada hari Rabu bertepatan dengan tanggal 19 Desember, maka bila kita berhari haya pada hari Kamis, 20 Desember, berarti kita telah lewat sehari.

Dan lebih tidak sinkron lagi, ketika kemarennya (hari Rabu) kita berpuasa 'Arafah mereka sudah selesai wukuf di 'Arafah dan melakukan penyembelihan hewan kurban di Mina.

Maka yang tepat dengan tata-turutan pelaksanaan ibadah haji yang sekarang sedang berlangsung adalah, kita berpuasa arafah pada hari Selasa ketika mereka (haji) benar-benar sedang wukuf di 'Arafah, dan melakukan shalat Idul Adlha dan memotong hewan korban besoknya karena pada hari itulah yang disebut sebagai hari nahr yang artinya penyembelihan.

Dan pemotongan hewan korban dapat dilanjutkan pada tiga hari setelah itu, yang dikenal dengan hari-hari tasyriq.

Pada Hari raya dan 3 hari tasyriq itu kita tidak boleh berpuasa.

Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling Mina (agar mengumumkan),

"Janganlah kalian puasa pada hari-hari ini (yaumun nahr dan 3 hari tasyriq berikutnya), karena ini adalah hari-hari makan dan minum dan dzikir kepada Allah." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Dengan penjelasan ini, penulis berharap, kita tak bisa lagi "dibingungkan" dengan adanya dua pengumuman; kapan seharusnya kita shalat Idul Adlha, termasuk puasa 'arafah, ikut yang pertama atau ikut yang kedua?

Kini persoalan sudah sangat jelas, karena pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan oleh saudara-saudara kita bisa kita saksikan langsung.

Sekarang problematika memang sangat komplek, itu semua menguji kita agar kita tetap berani memilih pilihan yang jelas-jelas tepat, meskipun kadang tampak melawan arus.

Nah, masihkah ada yang bingung untuk memilih kapan idul Adlha?

Wallahu a'lam.

Catatan: artikel di edit berdasarkan tanggal aktual saat ini (Azhari)

Senin, Desember 17, 2007

Karena aku tahu...


Stiker bagus di jendela RM Laros.

Pelajaran dari Aa Gym


Suatu hari kami menerima email dari rekan yang isinya :


Aa Gym Menjawab


Ini penampilan pertama Abdulah Gymnastiar atau akrab dipanggil Aa Gym disebuah talk show.

Tidak mudah meyakinkan dai yang dikenal dengan lagunya 'Jagalah Hati'ini untuk tampil di Kick Andy.

Pasalnya, selama ini dia merasa didzolimi oleh pers setelah berpoligami.Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya Abdullah Gymnastiar menyatakanbersedia. Semua pertanyaan yang diajukan Andy Noya dijawabnya denganterbuka.Mulai dari alasan mengapa sampai dia tega menyakiti hati istri dankeluarga dengan kawin lagi, bagaimana perasaannya 'ditinggal' oleh para pengagumnya, sampai isu bisnisnya hancur setelah berpoligami.

''Ini cobaan yang berat dalam hidup saya.

Tapi dalam perjalanan waktu kedepan saya yakin ada hikmah yang dapat dipetik,'' ujarnya.

Dengan suara bergetar Aa Gym mengungkap perasaan yang harus dipendamnya......selama beberapa tahun terakhir ini. dst...dst...dst....

Demikian secuil email pembuka yang kami terima beberapa hari menjelang acara tersebut...

Kami sangat terharu dan tergerak untuk menyaksikannya...

Bagaimana tidak? Kami dahulu adalah tim khidmat Pengajian Qolbun Salim....

Kami banyak berubah dan mencoba mengelola hati kami setelah semakin sering mendapat siraman rohani dari Aa Gym....

Bahkan makna "meaningful life"pun merupakan kata-kata bijak beliau yang sangat merubah cara berpikir kami dalam menyelami kehidupan ini

Setiap kali kami melakukan perjalanan ke Bandung, sholat tahajud berjamaah dengan Aa Gym-lah saat yang kami tunggu-tunggu... hati ini rasanya dekaaat sekali dengan sang Khalik mendengar alunan merdu suara beliau mengimani kami para jamaah....

Kini beberapa tahun kemudian, kehidupan berumah tangga telah menyita waktu kami...

Dan Aa Gym pun kami tinggalkan....

Dan Kini Aa Gym ditinggalkan jamaahnya....

Aah... sedih hati ini memikirkannnya...

Tanpa terasa hari yang ditunggupun tiba, jam menunjukkan pukul 10, dan Kick Andypun membuka acara talk show.

Dengan rasa kantuk yang sangat, kami coba mengikuti sepotong demi sepotong wawancara tersebut....

Subhanallah.... semakin cinta kami kepada ustadz kami....

Hatinya begitu bening menghadapi cobaan ini....
Ribuan bahkan jutaan jamaahnya meninggalkannya.
Tapi ia yakin, jamaah yang terbaiklah yang akan diseleksi Alam...
Mereka yang mengikuti Aa Gym karena ilmu dan hati, yang akan bertahan.
Sementara yang ikut karena "idola" akan meninggalkannya.

Satu lagi pelajaran berharga lagi dapat kami ambil dari beliau yaitu,
................................

Selamat berjuang Aa, semoga Allah selalu memberkahi Aa dan keluarga

Selamat Datang ala BETAWI

Foto ini diambil ketika keponakan khitanan...

Berhubung suami itu Orang Jakarta asli (BETAWI), maka ucapan selamat datang dari keluarga, juga ala betawi dong....

"ENTE DATENG ANE GIRANG"...he...he..he..